Belajar menahan angin, Teman
Aku ingin berbicara dengan cara paling jujur
yang pernah kulakukan.
Sejujur angin yang bergerak apa adanya;
kadang hanya lewat,
kadang menggugurkan daun tanpa sadar.
Beberapa hal, hadir tanpa direncanakan.
Seperti hembus yang datang
tanpa tujuan mengubah arah—
hanya menandai bahwa sesuatu pernah bergerak
di antara kita.
Tentang candaan yang kuucapkan tanpa niat meremehkanmu.
Aku mengerti,
tak semua kata mendarat dengan perasaan yang sama.
Jika ada yang membuatmu tersinggung atau tak nyaman,
aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Kejujuran pun kadang datang terlambat
untuk mencegah rasa yang terlanjur ada.
Atas kejadian ini, aku mendapat pelajaran berharga.
Bahwa kata bisa lebih cepat dari perasaan,
dan tawa bisa berlari
sementara hati masih tertinggal di belakang.
Di sanalah kesalahpahaman tumbuh tanpa disadari.
Aku tahu, aku keras kepala.
Sering memilih diam
dan membiarkan sesuatu berlalu,
seperti angin yang tak berhenti
untuk menjelaskan arah.
Ada hal-hal dalam diriku
yang selesai saat dilepas,
dan tak perlu diseret terlalu jauh
dalam perdebatan.
Diam, bagiku adalah cara bertahan.
Cara menjaga diri
agar tak menambah bunyi
di ruang yang sudah berisik.
Aku memahami bahwa kedekatan
tak selalu berarti saling menyukai semua hal.
Jika caraku bercanda bukan sesuatu yang dapat kau terima,
aku menghormatinya sebagai batas.
Aku tak ingin memaksamu memahami diriku sepenuhnya,
sebab aku sendiri masih menata isinya,
masih belajar mendengar
suara yang paling jujur.
Mungkin kedewasaan memang seperti ini:
berjalan berdampingan
tanpa saling menarik lengan,
membiarkan masing-masing
menemukan langkahnya sendiri.
Kusampaikan ini kepadamu
agar tak ada perasaan
yang menumpuk diam-diam,
seperti daun
yang dibiarkan mengering di peluk terik matahari.
Aku tetap berharap
kita bisa berada di ruang yang sama,
dengan jarak yang wajar,
dengan rasa yang lebih tenang.
Sebab kebersamaan
tak selalu tentang mendekat;
Sesekali, ini tentang memahami
kapan harus memberi ruang
agar kita bisa saling bernapas sendiri-sendiri.
Jika suatu waktu caraku terasa menyulitkanmu,
harap kau tahu—
aku sedang melatih diri,
agar angin dalam diriku
tak lagi menjatuhkan
apa yang seharusnya tetap utuh.
________
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 2 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar