Diri pasti berdiri lagi


Pada halaman kronik janggal lara,
diri terbawa tak punya harga;
hati mewadah tak pernah menarik tira—
 
Jika air mengalir, tak henti riaknya
jika rimbun dedaun, tak pudar bayangnya
bila diri diperalat, hilang mahkota dirinya.
 
Ketika waktu menyapa dahan dingin,
kuasa diri semakin terasing.
Tak ada satupun selain diri—
bertumbuh meski akar sudah pincang lirih.
 
Kau tau?
Rasanya seperti kulit terkoyak seratus kali lipat,
dengan seribu panggilan membuatku tuli.
 
Direndahkan seperti rerumputan,
dipaksa akrab dengan lumpuran;
aku diperalat, diseret dari kesadaran.

Dunia bersekongkol dengan lara hati,
menguji diri dengan patah-patah.
Hingga banjir air sedih mengucuri wajahku.
 
Sakit datang
angin sunyi mengikuti getah luka yang perlahan mengalir.
Aku—
rumput liar.
Rapuh, terhempas, terlunta sendiri.
 
Mengubangkan harap bersama
susut rerumputan yang tak lagi mau menampakkan diri.
Tarinjak, hilang—
dunia berbalik muka.
 
Namun sadar:
Helai-helai pasti tumbuh.
Pun batu bertumpuk, kaki menginjak menekan diri hingga tak mampu berdiri.
 
Aku pasti bertumbuh lagi.
Seperti angin pagi,
menarik diri dalam cinta yang mendalam,
Memeluk akar
yang masih tertinggal.

_____
`Karya: Sarah Bneiismael`
Bondowoso : 28 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)