Kedalamanku
Apa yang kau tanam di relung diriku hingga kau tahu
tanah mana yang paling mudah runtuh?
Aku merasa disentuh oleh keakraban—
sementara pengertian berjalan tertinggal,
jatuh satu demi satu ke dasar ingatan.
Kedekatan membuatmu hafal setiap hembusanku;
Mulai dari Jam yang berdetak di dinding batin, hingga cara suaraku berderit saat berpura-pura kuat.
Lukamu memilih tinggal—
mendangkalkan danau yang dulu memantulkan langit biru.
Cintamu pernah menjadi air jernih
yang kuteguk tanpa memprediksi dampaknya.
hingga kehilangan tumbuh sebagai musim panjang.
Hari-hari berlumut di sudut,
udara berbau lembap dan penantian panjang tak berujung,
jamur menua di ronggaku tanpa pernah diperdulikan kedalamannya.
Kau, orang terdekat paling tahu
cara memanggil pulang tanpa bersuara,
juga cara pergi dengan lembut—
meninggalkan pintu tetap terbuka.
Memperhatikan kelemahanku
seperti peta usang: robek, tapi masih akurat.
Aku berada di tepi kenangan,
airnya memanggil namaku dengan suara lama.
Mataku ragu memilih antara dua wajah waktu:
pemandangan yang pernah menyelamatkan, atau dunia runtuh yang masih kupeluk erat.
Aku turun, memandikan diri di sisa kesejukanmu.
Air itu setia seperti sahabat lama—
mengikis karat amarah yang mengeras,
membiarkan luka tetap berbentuk
agar aku tahu dari mana ia berasal.
Tangisan, kubawa menghadap muara.
Do'a menjadi aliran yang diam-diam membersihkan.
Di sana aku merenungi: memulihkan diri.
seperti sungai yang kembali mengenal jalurnya setelah banjir panjang menghanyutkan semua.
Kelak, hari dan bulan akan saling menatap batinku,
tanpa saling meniadakan, tanpa saling menyakiti.
Aku bersanding dengan cahaya itu—
tidak lagi menjadikan sakit
sebagai syarat untuk mencintai.
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 20 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar