Kemuliaan diatas sajak
Ragukan aku—
tak apa.
Bahkan pagi pun boleh gamang kepada siang,
sebelum matahari berani meninggi.
Namun bila kau hendak menilai,
arahkan pandangan
pada karyaku—
sebelum bicara, sebelum mengumandangkan pendapatmu.
Aku tak sudi menyediakan waktu
untuk merenungi putusan
yang diteriakkan
tanpa pertimbangan oleh seseorang yang enggan membaca,
menolak mendengar,
namun memukul palu keras-keras
dan menyebut dentumnya objektif.
Jika karyaku cacat bagimu,
cacat di bagian mana?
Di larik yang kubuat,
atau di caramu membaca?
Jika barisku tak layak,
ukurannya apa dengan standarmu?
Jangan-jangan, suaramu lebih didulukan daripada pikiranmu.
Bila akalmu enggan menimbang
serta matamu menolak meneliti,
untuk apa berbicara?
Lepaskan saja keduanya!
Sejak awal
yang kau bawa pada sajak
Adalah vonis sepihak—
dipaksakan menjadi hukum.
Aku tak meragukan kapasitasmu.
Namun saat kau naik di atasnya
untuk menginjak orang lain,
saat itu tampak jelas:
kau terdidik,
namun tak beradab.
Hai, kawan—
Sastra tidak dihadirkan untuk menyenangkanmu;
Sastra lahir dari kejujuran, ketulusan hati—
dari dorongan paling jujur manusia
untuk berkata benar
ketika diam tak lagi cukup.
Dan perkara itu,
seharusnya telah kau pahami
sebelum aku perlu mengatakannya.
Kau boleh meragukanku,
namun betapa ironis—
ketika kau sibuk mencari pembenaran demi menutupi kebenaran.
Maka aku memilih diam—
Ini bukan lagi soal benar atau salah,
bukan pula kalah atau menang;
kita semua tahu,
penilaian yang berangkat dari kebencian
tak pernah adil
pada karya.
Aku akan tetap berdiri
dengan caraku sendiri.
Dan bila suatu hari kau ingin menilai karyaku,
aku tidak keberatan—
turunlah sejenak dari segala ketinggian,
jernihkan hatimu,
dan dudukkan di sisiku sebagai manusia yang bersedia mendengar.
Di hadapan sajak,
bahasa menuntut kejujuran,
gelar harusnya rendah hati,
dan seorang yang bijaksana
tahu
kapan dan dimana harus
mulai berbicara.
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar