Lentera

Kita adalah dua lentera yang digantung berjauhan,
menyala pada jam yang sama,
namun memilih menahan terang agar malam tak terusik.

Sinar kita saling mengenali,
tetapi lidah api pura-pura lupa cara menyapa.

Sejujurnya, aku dapat menerjemahkan bahasamu melalui asap yang meruap—
dari panas,
dari arah pandang yang sengaja melenceng.

Namun aku berpura-pura buta.
Sengaja kubiarkan isyarat itu berlayar tanpa pelabuhan,
seolah angin tak pernah meniup bau asapmu padaku.

Ketahuilah, di dalam relungku
ada kuncup yang menahan mekarnya.
Sebab, bunga tahu:
tak semua kuntum boleh dipetik sembarangan.

Kau akan tetap utuh meski tak bersandar padaku,
seperti matahari yang tak berkurang sinarnya
meski awan memilih singgah.

Bukankah kita telah mahir memainkan peran
sebagai dua aktor yang hafal naskah lupa,
menyembunyikan rasa di balik dialog biasa?

Maka biarlah sandiwara ini berlanjut—
hingga waktu, dengan sendirinya
menarik tirai dan memperlihatkan jalan keluar
tanpa ada nyala yang harus dipasangkan.

Menyukaimu tak berarti aku harus
menukar kasih dengan luka,
atau menegakkan bahagia di atas runtuhnya perasaan orang lain.

Rawatlah dirimu sebagaimana langit menjaga bintang-bintangnya.
Percayalah satu hal:
takdir tak pernah keliru mengenal waktu,
tak salah membaca arah,
tak keliru menyebut nama.

Jika garis itu akhirnya mempertemukan kita,
semoga Yang Maha Mengetahui
melembutkan tiap langkahnya.

Dan bila tidak,
semoga kita tetap pandai bersyukur—
bahagia, dan terus menyala selayaknya lentera yang memiliki sumbu sendiri-sendiri.

Meski berjalan pada kisah yang berbeda.

______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)