Lintasan

Saat angin sore menyingkap tirai kamar, kemudian menyorot terik mentari kearah wajahku.

Saat itu aku memahami:
hari tak pernah benar-benar milik siapa pun.

Kita hanya penumpang.
Menanti,
sambil diajari berpamitan
bahkan sebelum sampai.

Aku pernah hidup dengan keyakinan berlebih:
ingin menggenggam,
menuntaskan,
memenangkan.

Lalu letih berbicara,
Kemudian harapan luruh,
dan realitas hidup mudah dipahami.
Harapan kabur melarikan diri.

Untuk apa mengejar?
Biarkan sampai lelah sendiri. 

Dan saat jingga mulai mewarnai senja:
Aku sadar, bahwa upaya tak boleh disia-siakan.

Maka kuluruhkan diri—
gagal kupulangkan,
luka kubiarkan, ketidaktahuan kurawat
sebagai ruang.

Kubiarkan waktu berjalan acuh.
Dan aku memilih hadir,
rendah hati,
Memahami detik jika ingin berlalu.

Dan bila segalanya mesti selesai,
aku ingin sampai pada tujuan 
tanpa beban.
Lega
Luruh
Jujur.
Tenang

_______
Ditulis Oleh: Sarah Bneiismael

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)