Memberi ruang, teman
Aku memilih memberi ruang
agar hidupmu dapat bernapas dengan bebas.
Ada bahagia yang perlu dijalani
tanpa kehadiranku di sekitarnya,
dan aku menghormatinya
dengan tidak mengganggu.
Aku menahan diri,
memberi waktu pada cinta
yang sedang kau rawat.
Aku mengerti bahwa perhatian
tak selalu berdiri di tengah;
kadang cukup di tepi,
menjaga agar segalanya
tetap baik.
Diamku adalah keinginan untuk tidak menguasai.
Aku percaya,
ketulusan yang dewasa
tidak menuntut peran,
dan kepedulian yang bijak
tidak perlu menentukan arah.
Jika suatu hari langkahmu melelahkan,
jika hatimu membutuhkan tempat singgah
yang tidak bertanya dan tidak menilai,
kau tak perlu ragu.
Aku tidak menyimpan hitungan
tentang jarak atau waktu,
tidak mengingat
siapa yang lebih dulu menjauh.
Kau boleh kembali
sebagai dirimu yang apa adanya—
tanpa alasan,
tanpa rasa bersalah.
Bagiku, persahabatan
adalah ruang yang tetap ada,
meski lama tak disinggahi,
Tidak menyimpan dendam.
Memahami
bahwa setiap orang
berhak mendalami perjalanannya sendiri,
dan tidak semua yang pergi
benar-benar meninggalkan.
Jika kelak kita berjumpa lagi,
biarlah itu terjadi
dengan hati yang lapang dan
tanpa cerita yang perlu dibenarkan.
Cukup sebagai dua manusia
yang pernah saling menjaga—
seperti rumah yang lampunya tetap menyala,
meski tak lagi menunggu siapa pun pulang.
______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar