Menepi

Kami pernah menjadi dua perahu
yang singgah pada teluk yang sama.
Laut menerima keteduhan,
air menyapa kayu dengan begitu lembut,
angin menahan layar
hingga waktu berhenti mendorong.

Segala sesuatu nampak selaras pada mulanya.
Arah memberi keyakinan,
jarak tidak menakutkan,
dan laut membuka dirinya
tanpa desakan yang berlebihan.

Namun perlahan waktu mengubah tabiat air.
Riaknya mulai menyimpan pertanyaan,
gelombang datang berulang,
mengetuk perahu dengan kegelisahan.

Angin kehilangan keseimbangannya,
menarik layar dengan waswas,
membuat arah meragukan dirinya sendiri.

Satu perahu menjaga kemudi
dengan ketakutan akan kehilangan pegangan,
yang lain memikul letih
sebab terus diminta menegaskan tujuan
yang sebenarnya tak pernah berubah.

Kayu mengeluh pada senyap,
tali menegang menahan cemas,
simpul-simpul mulai kesulitan bertahan.

Hari-hari dilalui
dengan suara laut yang serupa.

Meski tak pernah menjadi amukan,
gelombang kecil selalu menghantam sampai kami babak belur,
kesabaran tergerus.
Air mulai berombak.

Upaya telah ditempuh.
Retak dirapatkan, arah diselaraskan kembali, harapan diikat dengan benar.
Namun keraguan enggan luruh
meski niat telah dibulatkan.

Pada akhirnya perahu memahami satu isyarat:

Menepi.

Dermaga menyambut dengan keheningan,
air mengendurkan genggaman,
angin melepaskan tuntutannya.

Keputusan itu lahir
dari hasrat yang telah lama merindukan udara segar.

Tali dilepas perlahan.
Kayu menghela napas,
mengakui selesainya pelayaran.

Perahu memilih tidak saling menoreh,
agar yang baik tetap tinggal
sebagai kenangan yang patut dijaga.

Jika suatu hari angin menemukan ketenangannya
dan laut berhenti menghitung kecurigaan,
barangkali perahu akan berjumpa lagi
dalam perjalanan yang lebih arif—
dengan layar yang tak lagi diuji,
dan arah yang tak perlu dipaksakan.

Untuk sekarang,
perahu memilih menenangkan diri
Layar dilipat dengan rapi
kemudi dibiarkan beristirahat.

Rasa tidak selalu cukup
ketika laut telah kehilangan teduhnya.

Tak ada pelayaran yang sia-sia,
beberapa memang harus menunda keberangkatan.

Sebab mengetahui...

Badai pasti akan datang.


__________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)