Mengapa aku begitu mudah larut
Betapa selama ini aku telah dipecundangi. Bagaimana tidak—
aku terluka karena terlalu mencintai,
aku menangis setelah kelewat senang,
lalu tertidur setelah terlalu lama menangis.
Baru kupahami,
bahwa aku kerap menaruh seluruh jiwa
pada sesuatu yang tak pernah janjikan kekal.
Kugenggam bahagia seakan abadi,
pada cahaya sore—
indah nan lembut, namun pasti kembali ke pangkuan malam.
Mengapa aku begitu mudah larut,
begitu ingin menemukan akhir dalam satu pelukan?
Haruskah aku menurunkan harapan
ke lembah yang lebih tenang?
Mencintai tanpa hilang diri,
merasakan tanpa terbenam dalam lautan.
__________________
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 13 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar