Merindukan tubuh semesta

Angin tahu rahasia yang kubungkam.
Dia mengetuk, masuk membawa aroma tanah basah.
Melepas ingatan tentang mu di setiap ombak malam yang dipeluk desir pantai.
 
Rindu menjadi tidak sopan;
dia meretas gerbang mimpi—ambang pemisah
antara duniaku dan duniamu.
 
Dia hembuskan angin pada tirai malam saat sedang merenung sendirian,
menaruh bentangan mu hingga melauti batinku.
 
Kau tidak pernah meninggalkanku—
Kau hanya berbalik arah,
menyerahkan layar pada angin yang memanggil.
Laut memeluk, Tuhan membuka pelabuhan tenang,
dan di sana, kau beristirahat tanpa gelombang.

wahai tubuh semesta beraroma Ibu.
Ketahuilah, Jalur yang kau ukir di hatiku sedang tertutup kabut,
membuat langkah ku goyah seperti dedaunan yang ditiup oleh angin liar.
 
Hati ku menyusut jadi anak kecil di tepi pantai,
Digiring air, menceritakan jarak.

Lalu mataku berombak meluarkan air sedih.
sepanjang lautan mengingatkan setiap detik bersamamu—
setiap arusnya bersaksi bahwa rasa rindu itu nyata,
bahwa aku masih merasakan kehangatan mu meski kau tak berada di sini.
 
Fajar merayapi batas antara malam menjelang pagi,
Laksana ombak lembut dan sapaan pasir setelah badai panjang,
Mencium pipiku yang lelah disiram rintik sedih malam.
 
Bagaimana mungkin aku salahkan ombak yang hantam pantai,...?
 
Hanya malam yang penuh,
hanya bentangan mu yang hidup dan hangatkan diriku.
 
Rindu adalah lautan yang mengaliri setiap malam—
menjadi angin sapaan kenangan,
menjadi ombak yang mengusap bibir pantai.
 
Setiap malam usai adalah lautan
dihias pasir emas oleh ufuk fajar—
Dan pada setiap malam
tidak ada jarak yang terlalu jauh
untuk kasih yang masih saling menghangatkan.

Aku mencintaimu, Ibu

_______
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 2 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)