Musim datang, daun akan berganti
Ku sampaikan Kepada-Mu—
Dari sehelai hijau yang keriput dan kering,
di atas bumi yang telah lama merenung.
Cintaku bertumbuh di ranting-Mu
Bersama janji tertulis pada serat lurus:
"Hijau kita tetap walau musim berganti terus."
Kemudian terlihat—
lembarku menguning perlahan,
kecoklatan seperti tanah.
Kau cari yang lain—
Menumbuhkan tunas dengan hijau lebih muda.
Serat rapuh dan halus,
Halus—
Menari digiring angin dingin yang sedang bersiul.
"Ini takdir," kau ucapkan lembut—
"Alam yang bergerak, bukan pilihan-Mu yang menjauh."
Sengaja kau patahkan ranting tempatku menggantung padamu.
Helai demi helai gugur—
Tertusuk.
Kau abaikan sambil tersenyum
Kau datang dengan wajah yang sama,
seolah masih mengenalku yang sudah tiada nilainya.
"Musim telah tiba," kau katakan dengan nada yang tenang—
Perhatian-Mu untuk tunas baru yang tumbuh.
Aku, tergeletak di tanah.
Setiap helai yang pernah setia pada ranting-Mu
Sepenuh hati—
Mungkin begitulah cinta-Mu yang selalu mencari pangkal baru:
bersandar pada yang muda,
ditinggalkan saat mengering dan putus asa.
Angin membawa helai lapuk yang melayang.
Melayang—
Kau kira keindahan tercipta hanya pada kehijauan.
Padahal saat jatuh dengan kedamaian,
Aku berharga.
Memberi makan tanah jauh—
menjadi satu dengan alam:
Abadi dan tak terputus.
Angin membawaku pergi—
Selembar kering
kembali ke jagad yang luas.
Tenang.
Kau berdiri kokoh dengan dedaunan baru yang menari,
tersenyum lembut sambil melupakanku.
Jangan sesali
Takdir ini,
pilihan yang telah kau tentukan.
Aku pergi
Terima kasih pada setiap helai yang pernah hidup bersamamu—
Ingatlah aku, pernah memberi naungan pada musim badaimu.
Bersama tanah, akhirnya Aku
Melihat langit lebih jelas dengan warna biru alami.
Musim baru akan datang,
Daun pun akan berubah.
Tumbuh menjadi pohon kuat
akar mendalam,
penuh dengan semesta, dan tak akan dihianati lagi.
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 23 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar