Neraca tua (tentang menimbang waktu, penantian, dan memilih ikhlas sebagai jalan pulang)

Karya: `Sarah Bneiismael`
Bondowoso, 20 Januari 2026.
Sepertiga malam.


Rumput liar bangun lebih dulu dariku,
menyebut dirimu dengan bisikan paling lirih—
agar pagi tak cemburu
pada sisa getar yang masih tinggal di bibirku.
 
Aroma berjalan sendiri,
menyusuri hari.
Ia tahu rindu perlu disembunyikan;
namun salah memilih arah—
namamu dibawanya masuk
Pada relung dalam, berdenyut terlalu cepat.
 
Angin berhenti di hadapanku.
Ia menatap lama,
membaca sesuatu yang tak pernah kuucapkan.
Lalu ia menyentuh waktu:
jam-jam terguncang,
langit memejamkan mata,
dan laut di kepalaku
kehilangan ingatan tentang gelombang.
 
Diam.
Sedalam batu yang lama tinggal di kegelapan.
 
Aku duduk di tepi hari yang mulai melengkung.
Sepi datang membawa neraca tua—
di satu sisi, detik-detik yang kuhabiskan menunggu;
di sisi lain, langkah-langkah yang tak pernah jadi.
 
Menakarku
seperti menimbang biji-biji waktu
yang siap dikubur dalam tanah.
 
Padang membentang tanpa ujung, bertanya dengan suara berat:

"Mengapa kau setia pada arah
yang tak pernah tinggal?
Mengapa kau menjaga dia
yang hidup hanya dalam embusan napasmu?"
 
Segala tuturku memilih bersembunyi.
Jeda menjadi satu-satunya tempat aman.
 
Namun sungai terus berbicara;
airnya menyimpan jejak langkah yang telah lewat.
membawa namamu sebentar,
lalu melepaskannya ke kejauhan—
seraya berkata:
"Belajarlah kehilangan
tanpa bersuara."
 
Harapan membeku di tanganku,
menjadi batu kecil yang keras kepala.
 
Kutaruh ia di tepi jalan hidupku, dan rupanya. waktu menanamnya.
 
Pohon-pohon tumbuh;
daunnya berlatih sabar,
akarnya menulis doa
yang tak putus-putus
ke dalam bumi.
 
Kesibukanmu menjelma kota tanpa malam;
lampu-lampunya menolak padam.
 
Aku berjalan dengan terlalu banyak gelap,
hingga menunggu terasa
seperti menahan napas
lebih lama dari yang sanggup ditanggung badan.
 
Aku melepaskanmu.
 
Sebagai jalan—
agar cinta tak saling melukai.
 
Menjadi diam,
belajar cukup,
menjadi ruang yang tak menuntut
apa pun.
 
Angin datang kembali,
kali ini dengan tangan yang ringan.
 
membuka jalan bagi napas baru.
 
Bibir menutur jatuh doa-doa,
tahu ke mana harus pulang.
 
Jika cinta ingin kembali,
biarlah ia menuju-Mu.
 
Aku menunggu tanpa arah,
namun tidak tersesat.
 
Dalam pasrah,
aku tiba—
di tempat jiwa menemukan ketenangan 
tanpa membawa beban lama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)