Pelangi

Aku pelangi.
Hadir selepas hujan reda,
melengkung sebentar di langit yang masih basah luka.
Kupikir warna-warniku cukup,
membuat mata berdiam dan ingatan bertahan.

Tak ada pengikat antara aku dan biru yang kupinjam,
aku hanya uap, cahaya, dan air yang membias.

Embun menjanjikan sentuh, tapi tak pernah memeluk.
sementara mentari naik perlahan, memintaku menghilang.

Saat tubuhku menipis ditiup angin yang dingin dan tenang,
Kekaguman padaku pun satu per satu berpulang.

Mereka tak mencari ke mana warna ku terbang,
Tak ada yang bertanya ke mana aku menghilang.
cukup puas pernah melihat—lalu lupa tanpa bimbang.

Perhatian mereka seperti salam di ambang pintu senja,
bertanya sekilas, lalu menutupnya begitu saja.

Mereka mencintai cerah, menolak kelabu.
tak ingin tahu betapa kabut setiap hari berusaha menelanku.

Dalam lengkung yang kian pudar, aku mengerti
aku bukan hiasan langit untuk dipuja lalu ditinggalkan.
Aku pekerja antara jatuh dan terang,
menyusun warna dari luka hujan dan sinar kepayahan.

Biarlah jejak warnaku larut kembali ke awan,
tak perlu disimpan dalam ingatan yang mudah dilupakan.

Sebab yang setia padaku dan seluruh kehilanganku, hanya aku

pelukis, kanvas

Dan hujan itu sendiri.


______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)