Pohon ditengah keramaian

Aku adalah pohon,
yang getahnya bercucuran.

Seisi bumi tak pernah benar-benar berpihak,
atau memahami—
betapa berat hari-hariku.
 
Tumbuh di tempat ramai,
menjadi teduh bagi banyak orang.
Mereka datang membawa tawa,
menyandarkan lelah,
lalu pergi—
tanpa pernah bertanya,
apa yang tertinggal padaku.
 
Daun-daunku menyimpan perasaan
yang ingin luruh.
Ingin lepas setiap kali angin lewat,
namun selalu mampu menenangkan diri,
seraya berkata:
"Bertahanlah,
biarkan semuanya tetap tampak damai."
 
Mereka menyebutku rindang:
tempat ternyaman untuk bersandar,
bercerita,
hingga terlelap.
Mereka pernah berjanji—
melindungiku dari musim.
 
Namun kulihat mereka berjalan bergandengan,
menutup mata
pada luka yang kualami.

Aku mencoba mengerti.
Meyakinkan diriku sendiri:
"Bahwa tidak semua yang mengaku cinta
bersedia memihak kebenaran."
 
Setiap senja turun,
aku meratapi satu pertanyaan:
"Mengapa selalu aku yang disisihkan?"

Aku hanya ingin tenang.
Aku hanya mengharapkan—
apa yang pernah dijanjikan.
 
Namun mereka datang lalu pergi,
meninggalkanku berdiri
dengan beban
yang tak pernah ingin mereka pahami.

Pada malam-malam kelam,
getahku jatuh satu per satu,
menyusuri tubuh yang letih.

Tak ada kasih.
Tak ada peduli.
 
Beginilah nasib pohon
di tengah keramaian:
Berdiri di bawah langit,
menanggung terik dan hujan,
menikmati getahnya sendiri.

Hidup—
meski tak lagi tahu
apakah keberadaannya masih dicintai,
atau sekadar
dibutuhkan.

_____
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 19 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)