Rintik abu pada mata memandang

Oleh Sarah Bneiismael
Bondowoso, Kamis 15 Januari 2026
 
Setiap hati yang pernah disentuh badai
akan membawa kuyup basahnya kemanapun.
 
Cinta adalah lautan yang tiada batas.
Mencintai diriku sama halnya dengan menyelam pada kedalaman yang menyimpan runtuhan kapal karam.
 
Mencintai diriku bukanlah hal yang mudah.
Kau harus menerimaku
beserta segala ketidakberuntungannya—
misalnya ombak yang mengikuti jejak pasir,
batu-batu pantai yang menusuk dari kaki sampai ke hati.
 
Sebagaimana laut tak pernah bisa diam,
setiap langkah membawa beban.
Dan itu telah menjadi bagian dariku.
 
Yang paling menyakitkan bagiku
adalah harus selalu meminta maaf—
seperti jam pasir,
aku terus menurunkan rintik abu
pada setiap mata memandang.
Pedih dan menyakitkan, semakin lama.
 
Dan kau tahu?
Bumi di bawahku selalu gelisah,
tanpa pantai yang bisa jadi pijakan.
Layaknya hanyutan kayu
tanpa memiliki hak untuk bersandar.
 
Aku selalu membayangkan diriku dipeluk dan ditenangkan,
seperti kelapa di tepi pantai—
tertinggal di antara asin dan sepi,
berharap ada tangan yang sudi menetap,
sebelum ombak menyeretku pergi tanpa pernah dimiliki.
 
Sungguh menyakitkan—bahkan untuk merasakan kasih tulus
dan sebenar-benarnya dicintai,
aku harus berimajinasi.
 
Maka tidak mengherankan jika dunia memilih pergi,
bahkan jika yang bersangkutan adalah dirimu.
 
Ditinggalkan bagiku seperti bulan menjelang fajar:
meski setiap awan menangis tanpa henti,
semua rasa sakit tak lagi menusuk.
Sudah menjadi kebiasaan,
dan tidak lagi menyakitkan.
 
Aku telah menebar semua rasa yang tersisa
dengan tangan ringkih dan perasaan tidak yakin,
dari hati yang mulai membatu—
kutuai sebagai sisa kebaikan dari diri.
 
Lalu kupasrahkan segalanya pada Yang Maha Semesta.
Bagaimanapun akhirnya.
Meski itu berarti aku harus menjadi ruang sendiri,
tak seorangpun bisa mengunjungi.
 
Dan apapun keajaiban yang akan datang,
aku menunggunya dengan hati yang lapang—
baik yang basah, menghanyutkan,
sekalipun menenggelamkan;
baik kematian atau pernikahan.
 
Aku hanya ingin segera tiba
pada tempat segala rasa lelah, melarut dalam sebuah rasa yang disebut:

Ketenangan.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)