Selisih Utara (Perasaan yang ada di hati seseorang—tak disadari, tak disambut, tetap tinggal)
Aku berangkat dari jarak
yang kita izinkan tinggal tanpa ditanya ke mana ia akan berakhir.
Semesta boleh menorehkan kisahnya sendiri;
aku memilih menjadi selisih
yang membuat matamu tertahan
di antara utara dan segala arah.
Ada masa ketika pendar hari
menunduk terlalu ramah—
menyandarkan kepalanya
pada bahu waktu yang uzur,
membujuk jiwa agar percaya
segalanya telah rampung.
Ketahuilah, bahwa itu hanya tenang
yang dipinjamkan sebentar;
semesta mencoba menahan langkah,
seperti paru yang sengaja tak berhembus,
memberi ruang bagi sesuatu
untuk tinggal meski tak pernah disambut.
Aku tidak hadir sebagai terang,
aku adalah nada purba
yang tak pernah kau undang.
Kususuri rongga batinmu,
memutar poros perasaan,
mengajari rindu
cara berdiam tanpa layu.
Dan bila kesepian menarik kursi
kemudian duduk di sebelahmu,
menyilangkan kakinya
tanpa bertanya apa pun,
namun tak juga pergi.
Ingatlah—
barangkali aku sedang kembali:
Sebuah irama
yang tak pernah kau tuntaskan dengar,
Tetapi telah kau izinkan
duduk lama
Pada relung hatimu yang paling jarang kau buka.
____
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 1 Januari 2026
06:32 Wib_
Komentar
Posting Komentar