Siapa penjajah itu?
Pundak bumi meradang;
Mengenang masa ketika bebannya ditata
sebelum
setapak meretih,
dilentang habis lalu dihancurkan.
Hutan mengerang,
ditumbang habis-habisan.
Batangnya ditebang tak diberi malam.
Dia bungkuk meratapi rimbun,
memeluk sisa-sisa serabut.
Sungai menggigil,
airnya sesak nafas.
Dan ia meraung ketika serpih-serpih sayup merobek selaput bening tubuh;
Arusnya patah di tengah jalan,
menyisakan gemuruh.
Di telan sendiri.
Gunung menghela napas:
"Siapa yang peduli pada punggung yang disayat oleh tikus lapar,
pada remuk,
dan luka yang bahkan angin tak mau tanyakan?"
Jalan-jalan geram;
Tubuhnya menganga, dibiarkan lapar,
meringis diinjak janji setengah jadi.
Pondasinya dimakan binatang
sebelum siap ditapaki.
Bumi frustasi:
pikiran kelu, tubuh membatu, akal sehatnya buntu,
mendengar gunung, laut, hutan, dan jalan merintih bersama.
Berpuluh musim berganti:
dari renggang tanah, banjir sungai, hingga gelombang di ujung pantai.
Satu pertanyaan perlu dijawab! :
"Siapa sebenarnya penjajah itu?
Angin liar yang kita undang masuk,
atau akar yang diam-diam melilit kaki bangsa?"
Biarkan kawasan liar istirahat,
menghela napas yang telah lama dipecundangi.
Kedamaian, pulanglah!—
kami sudah letih disuapi seruan,
sementara keadilan tetap pincang
dan enggan belajar berjalan lurus.
______
Karya: Sarah Bneiismael, Kiky, Tanpasuara.
Bondowoso, Yogyakarta, Tanjung Balai
10 Desember, 2025
Komentar
Posting Komentar