Yang miring selalu tergiring
Ada yang menyebut itu strategi;
padahal, lebih tepat disebut jalan pintas bagi mereka yang alergi pada kemampuan.
Ketika daya saing tidak cukup kuat berdiri sendiri, pengaruh dijadikan tongkat.
Opini digiring, reputasi dipelintir, dan nama baik diperlakukan seperti segenggam koin receh yang dilempar; Berantakan, Berisik.
Cara ini memang efisien:
tidak perlu belajar lebih jauh, tidak perlu diuji secara terbuka.
Cukup rajin bercerita, dan berharap orang lain cacat logika.
Persaingan sehat menuntut keberanian untuk kalah dan kapasitas untuk menang.
Menggiring kebencian justru menyingkap kepanikan menghadapi perbandingan yang jujur.
Ketika kemampuan ragu tampil, cerita naik panggung menggantikan prestasi.
Namun cerita tidak hidup sendirian;
cerita memerlukan penonton—dan sialnya, selalu ada yang bersedia.
Mereka yang menelan tudingan tanpa klarifikasi,
yang mengulang kabar tanpa koreksi;
sering merasa netral, padahal sedang menjadi perpanjangan tangan kebodohan.
Fitnah tidak hanya berasal niat buruk;
fitnah tumbuh subur karena kemalasan berpikir yang merasa dirinya cerdas.
Ironisnya, semakin sering kebohongan diulang,
semakin banyak yang menyebutnya "opini".
Di sini, akal tidak dikalahkan oleh argumen—
akal ditinggalkan begitu saja.
Dalam lanskap seperti ini, kegaduhan tampak produktif,
dan ketekunan terlihat tidak relevan.
Yang berisik dianggap berpengaruh,
yang bekerja dianggap tidak ada.
Padahal yang satu hidup dari perhatian singkat,
sementara yang lain bertahan karena waktu belum selesai bekerja.
Di tengah semua itu, aku memilih sikap yang paling tidak menarik bagi mereka:
Tidak bereaksi.
Jika ditanya, apakah tersinggung?
Jawabannya; Ya, tentu
namun, Aku paham bahwa membalas kebisingan hanya memperpanjang umurnya.
Aku tidak merasa wajib meluruskan cerita
yang sejak awal lahir dari niat untuk bengkok.
Aku tidak ingin membela diri di hadapan mereka
yang menukar nalar dengan gosip
dan menyebutnya keberanian bersuara.
Mengabaikan bukan kelemahan;
mengabaikan adalah bentuk seleksi—
memilah mana yang layak ditanggapi,
dan mana yang cukup dibiarkan mempermalukan dirinya sendiri.
Waktu, tidak seperti opini, tidak bisa digiring.
Waktu bekerja perlahan, tanpa panggung, tanpa tepuk tangan.
Dan selalu adil memperlihatkan:
siapa yang sibuk menjatuhkan,
dan siapa yang diam-diam membangun.
Maka biarlah mereka terus bercerita.
Aku akan terus berjalan.
Sebab dalam dunia yang gemar menggiring,
ketenangan berpikir adalah satir paling kejam—
tidak membalas,
namun tak pernah kalah.
______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar