ANTINOMI KASTA DAN CINTA
Kurajut Pakem dari gading dan pualam yang purba,
Demi lelaki Adiwangsa agar martabatku tak rebah.
Namun, saat sang Adidaya kini telah kupeluk,
Aku hanyalah Noktah sepi;
luruh dan remuk.
Aku memenangkan prestise, tapi kehilangan hangatnya rasa;
Mendekap puncak tinggi, namun jiwaku berakhir tersiksa.
Sial benar lakon ini! Aku bertahta di samping sang Bintang,
Namun kehadiranku baginya hanyalah bayang terbuang.
Ia terlalu megah untuk menoleh, terlalu angkuh untuk peduli,
Meninggalkan aku yang memeluk sepi di menara gading ini.
Aku terjebak dalam Residu di sela egonya yang presisi;
Memiliki raganya, namun tak pernah memenangkan atensi.
Lalu, bisikan kelam mulai merangkak, menawarkan muslihat:
"Haruskah aku turun ke Marhaen mencari abdi yang taat?"
Mencari ia yang jelata agar aku dipuja bak Mahadewi,
Menukar kasih dengan sujud, membarter sayang dengan upeti.
Haruskah kuturunkan kasta demi ruku’ yang paling dalam,
Hanya agar ego yang haus ini tak lagi mati karam?
Inikah antinomi cinta? Sebuah transaksi yang tak berujung;
Antara menjadi Jelaga di puncak, atau tiran yang diagung?
Haruskah satu jiwa hancur agar yang lain merasa bertahta?
Haruskah ada yang tersungkur demi sebuah kedaulatan cinta?
Aku muak pada rumus yang mengharuskan salah satu merunduk.
Aku ingin dicintai bukan karena aku tinggi atau ia tunduk.
Aku ingin cinta dimana dua sukma sanggup saling menatap dalam setara;
Tanpa ada kasta yang membuat salah satu dari kami terluka.
________
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 3 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar