Dua cuaca adalah kita

Rindu melintas sebelum lidah berkata;
waktu tersenyum malas.
Takdir menyelinap, pura-pura tak tahu.
 
Ketahuilah!
Jendela Kamarku tertunduk setiap kali engkau lewat dalam pikiranku;
angin mengetuk tirai.
Rasa padamu terjahit dalam jantungku,
tarik demi tarik, sunyi dan rahasia.

Kita dua cuaca—
aku hujan yang belum reda;
kau matahari yang belum stabil cahayanya.
 
Langit sama, musim berbeda;
dan malam tersenyum nyinyir melihat kita menari bersama angan-angan.

Ruang tunggu menolak memanggil kita.
Bahkan Kopi cemburu pada jari-jari yang menahan diri;
Tiap tutur berjalan hati-hati,
takut tumpah jadi pengakuan.
 
Cinta kita bangunan setengah jadi
berusaha berdamai dengan keberingsutan sendiri
sebelum menempati ruang bersama.
 
Sampai hari itu,
rindu semakin dalam
malam menyimpan arsip diam;
dunia salah paham.


_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso , 13 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)