Dua sayap patah
Tuhan,
Pernah tubuh ini adalah singgasana bagi angin,
tempat luas cakrawala diringkas dalam kepak perkasa.
Saat itu, dua sayap-Mu adalah pilar yang tak tergoyahkan:
satu menguatkan rusuk kanan sebagai tiang doa,
satu menjaga lambung kiri sebagai debar nyawa.
Dulu, tinggi adalah kawan, dan jatuh hanyalah sebuah ketidakmungkinan.
Kini, kedua sayap itu telah tanggal.
Yang tersisa hanyalah rangka-rangka sungsang,
patah tepat di pangkal daya,
terhempas berulang tanpa satu pun lengan penopang.
Tanah mendadak menjadi gravitasi purba,
terasa lebih pekat dan jauh lebih berat dari segala duka.
Berdiri adalah upacara memakan sisa tenaga.
Langkah-langkah kusimpan rapat agar tidak runtuh sepenuhnya,
sebab setiap pijakan terasa seperti mengkhianati kerapuhan tulang.
Angin melintas tanpa berhenti untuk menyapa,
dan langit—kekasih lama yang dulu kupeluk—menjauh tanpa menoleh.
Wajah rindu telah merengut, ingin kembali kepada kebutuhan paling mula:
hangat yang pernah tinggal,
hanya ingin genggam yang tak menuntut balas atau tebusan.
Tak ada lagi terbang yang kutitipkan pada angan,
aku hanya memohon agar tidak jatuh dalam kesendirian yang panjang.
Perlindungan luruh, helai demi helai, bersama bulu-bulu terakhir yang gugur.
Keberanian yang dulu garang, kini menyusut dan memilih diam.
Sunyi mulai membangun sarang di dalam relung hati.
menjadi satu-satunya tamu yang paling betah.
Doa-doa meluruh seperti daun yang kehilangan dahan.
Segala tutur menjadi yatim piatu, habis sebelum sempat sampai ke haribaan-Mu.
Air mata telah menjadi mesin yang bekerja sendiri dalam gelap,
sementara malam menerima segala keluh tanpa menjanjikan pagi.
Dengan sepasang sayap yang telah tiada,
dan patah yang kini menetap sebagai alamat trauma,
hidup kusematkan dalam duduk yang panjang—
satu hela napas lagi, Tuhan,
hanya agar pilu ini tidak dipaksa selesai hari ini.
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 1 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar