KABUT DIKSI PEREMPUAN SUNYI(Melembah di Arkeus Lunaris) MY Kembara
Di tengah kabut Haruman
merunduk perlahan
mendinginkan jalanan
yang mestinya diberangus siang
Urung ku nikmati sarapan
selalu terlambat karena lapar
senantiasa lamban datang;
kau kabarkan; gemercik larik mengalir ke hilir dan tertampung
menjadi telaga sajak itu
kini menjelma awan
Langit mata ku tahan hujan
"Ini keajaiban!"
Gumam bayangnya berjalan perlahan
di lorong kata yang labirin;
menyampirkan hening
pada benak bak kaca retak
Dari netranya awan bergulung mendung
Namun bukan hujan yang turun,
melainkan prosa dan puisi yang ragu
menyebut namanya sendiri
Perempuan itu diam
bukan sebab tak punya badai,
tapi karena dunia
terlalu sering memotong argumennya sebelum titik,
bahkan kalimatnya tak pernah terucap hingga koma
Mereka tak sudi menyediakan telinga
Hingga akhirnya, jangan salahkan jika dia merupa gemuruh gurun
mengaum, meraung
Namun di dadanya,
diksi berdenyut lirih:
doa tak terucap kata,
luka diakumulasi sedanau metafora
Ia merawat makna
seperti menjaga obor mungil
di tengah telunjuk penghakiman—
tidak pamer kilau,
tak menuntut nyala
Setiap langkahnya
meninggalkan jejak seperti goa yang gelap,
namun angin pasti ingat
pernah dihirup dengan paru-paru tafsir
Jika kelak tabir itu terungkap,
bukan teriakan yang muncul,
melainkan bait-bait jujur
yang akhirnya berani diterbitkan
Dan semesta pun tahu:
perempuan ini
tak pernah melompong
ia hanya memilih kosa kata
yang tak mengkhianati hatinya
Di tengah kabut Haruman
melembah perlahan
mendinginkan jalanan
yang seharusnya terpanggang siang:
Arkeus Lunaris adalah pesta salju
Tango Patagonia
dadaku hipotermia
Mari bertandak!
Aku tak sabar ritmis bergerak
ikuti alunan musik
yang hanya dapat dimengerti langit
Aku yakin nadanya pilu, mendayu
lalu patah, berderak, bertalu
tram pam pam, yuuuhu
Pasti buatku berjingkrak-jingkrak,
melompat seperti air terjun, berdebum,
menderu hingga jadi debu
Sungguh beku ini menyiksa
Karsaku tak sabar ingin berdansa
Bukan denganmu, Perempuan Sunyi
Sebab kau kemarin hingga kini
tengah berbisik, menelisik, berisik
bergumul dengan segala riuh
Aku hanya tak sabar
ingin mengepak senyap
meliuk sepi
bersama Arkeus Lunaris
seperti dulu itu
menepi dalam kontemplasi
bersama sisimu yang paling sepi
Kaki Gunung Haruman, 9 Pebruari 2026
Komentar
Posting Komentar