Kita tidak kalah
Hubungan ini pernah kupeluk seperti rumah yang ingin kujaga dari segala cuaca.
Namun, di dalamnya, kepercayaan berjalan pincang.
Duduk di ruangan sebagai tamu yang sering datang, tetapi jarang benar-benar dipersilakan tinggal.
Kesalahan datang seperti musim hafal alamat. Mengetuk dengan cara yang sama, masuk melalui pintu yang sama, meninggalkan jejak yang sama.
Permintaan maaf pun selalu hadir di ambang hari, menunduk sopan, lalu pergi tanpa sempat meletakkan perubahan.
Aku mencintaimu dengan sungguh. Cintaku seperti akar yang menahan tanah dari longsor. Menguatkan yang rapuh, menyambung yang retak, dan berharap suatu hari pohon ini tumbuh seimbang.
Namun, akar pun dapat letih ketika tanah terus bergeser dan langit enggan teduh.
Pengertian di antara kita kerap berjalan sendiri-sendiri. Aku berbicara dengan bahasa hati, sementara suaramu sibuk membela kebenarannya sendiri.
Hidupku diletakkan sejajar dengan hidupmu—arah harus selalu satu garis, seolah pandanganku perlu dirapikan agar sesuai dengan peta yang kau rancang.
Padahal, jiwaku memiliki arahnya sendiri. Tumbuh dari perjalanan yang tidak singkat, belajar dari luka yang tak sedikit. Berhak menentukan utara tanpa harus merasa bersalah.
Cinta di antara kita masih ada, namun sering duduk kelelahan di sudut ruang. Kepercayaan enggan menyapanya; pengertian jarang mengajaknya berbincang. Dan aku menyaksikan semuanya dengan hati yang sudah kelelahan.
Akhirnya, kesadaran datang seperti fajar yang lembut, tidak memaksa, hanya menyentuh bahuku dan berkata bahwa bertahan bukan satu-satunya bentuk kesetiaan.
Aku memilih melangkah pergi dengan tenang. Keputusan ini lahir dari doa-doa yang panjang, dari malam-malam ketika hatiku akhirnya berdamai dengan kenyataan.
Aku pergi demi kebaikanmu, agar engkau bebas berjalan sesuai keyakinanmu sendiri. Juga, aku pergi demi diriku, agar nilai-nilai yang kujaga tidak lagi tergerus oleh perdebatan yang tak selesai.
Perpisahan ini bukan kekalahan. Biar orang mencela, ini adalah cara jiwa menyelamatkan diri dari kelelahan yang berulang, penghormatan terakhir pada cinta yang pernah kita perjuangkan.
Kini aku memahami: ada cinta yang tetap tulus meski tidak lagi tinggal; ada kasih yang memilih menjauh agar keduanya tidak terus saling melukai dengan diam.
Dan dalam keputusan itu, aku menemukan kembali diriku—utuh, tenang, dan tidak lagi harus meyakinkan siapa pun tentang arah hidup yang kupilih.
Kuharap, kamu pun menemukan ketenangan, atas keputusan ini.
____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 11 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar