Laron dan Nyala
Pada suatu malam renta,
tatkala sunyi berlipat seperti kain kafan.
Aku menjadi nyala.
Lalu gelap mengirimkan anak-anaknya:
laron-laron bermata haus,
mengira cahaya adalah pengkhianatan.
Mereka berputar, berputar—
seakan lingkar itu harapan,
seakan jatuh adalah takdir; patut dirayakan.
Mereka menabrakku seraya berseru:
“Terang terlalu sombong.”
“Nyala harus tahu diri.”
Sayap-sayap tipis menciumi kaca,
Tersungkur sambil memuja kejatuhannya.
Sayap-sayap terlepas, mereka sebut ikhtiar.
Wahai malam,
sejak kapan kebenaran diwajibkan meredup
agar kebohongan tidak tersinggung?
Aku tidak menyalahkan laron—
sebab mereka dilahirkan dari gelap yang merindukan terang.
Namun mereka lupa:
nyala bukan biang kebinasaan;
Aku hanya setia pada hakikatku.
Jika aku meredup demi menenangkan sayap mereka,
maka malam akan menang tanpa perlawanan.
Jika aku padam demi pujian mereka,
maka gelap akan mengaku benar.
Maka izinkan aku tetap menyala,
meski diserbu, meski dituding.
Sebab terang jujur
tak pernah keberatan siapapun datang—
menyingkap siapa yang tak tahan sinar.
Dan bila esok aku padam sebab kepanasan sendiri,
ketahuilah.
Aku tidak mati karena laron;
aku selesai
sebagai nyala.
_________
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 08 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar