Lebih dari segala warna
Perasaanku padamu seperti cahaya yang tidak menyilaukan—cukup terang untuk terlihat, cukup lembut untuk tidak memaksa. Aku menyukaimu dengan kesadaran utuh, tanpa hasrat menjadikannya piala atau bukti kemenangan.
Kau merespons dengan indah, seperti pelangi yang melengkung selepas hujan. Warnanya memikat, sapamu hangat. Namun, keindahan itu sering hanya singgah. Pesan datang seperlunya, perhatian berpendar sesekali—cukup menumbuhkan harap, tidak cukup menjadi arah.
Ragu adalah musim yang wajar. Tetapi, musim yang terlalu lama tinggal pasti berubah menjadi penundaan.
Di sanalah kesadaraku menegakkan diri, membedakan pesona yang memikat dan keputusan menetap.
Sekalipun aku mencintaimu, keberpihakanku tetap pada diriku sendiri.
Cinta tidak boleh mengecilkan martabat, tidak pula layak ditukar nilai dengan harap.
Aku bukan ruang kosong untuk diwarnai sesuka hati.
Jangan sepelekan keteguhan ini.
Dan jangan ubah hitamku dengan basa-basi pelangimu.
Aku tidak akan mengejar cahaya yang belum pasti hendak bersinar.
Aku menyukaimu.
Namun, jika kesungguhan tak pernah benar-benar tiba, langkahku akan mundur dengan tenang.
Kau harus tau.
Harga diri lebih penting dari segala warna,
dan aku memilih langit yang lebih tahu caranya menetap.
________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
28 Februari, 2026
Komentar
Posting Komentar