Mari

Mari duduk sejenak
di antara jejak dan tujuan.
 
Dengarkan—
bisikan batin
yang kerap tersisih oleh riuh kehidupan.
 
Setiap insan pernah memiliki kebenaran,
seperti lentera kecil
di ruang kesadaran.
Menyala
menjaga hangat langkah,
agar niat tetap terang.
 
Lentera tak pernah berjanji
menyaingi sinar semu
yang disulut bersama-sama.
 
Begitupun lingkungan,
mengajarkan banyak perkara
termasuk cara tersesat dengan tertib.
Kekeliruan ditiup menjadi kelaziman;
kearifan dipinggirkan
demi kelancaran arus.
 
Di titik itulah kebenaran diuji—
oleh kebiasaan
yang diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.
 
Jika suatu hari langkah terasa ganjil,
tak perlu lekas mencela diri.
Boleh jadi, arah tetap jujur,
sementara tanah pijakan
tak lagi bersahabat
dengan kesadaran
 
Maka ajukanlah pertanyaan!:
"Apakah perjalanan ini menuju makna,
atau sekadar larut
dalam suara terbanyak?"
 
Sebab kebenaran menuntut keberanian—
untuk tetap jernih
di tengah kesesatan
yang disepakati sebagai kewajaran.
 
Mari hanyut—
tidak bersama arus,
tetapi menyelam ke palung kesadaran.
 
Di sana, kebijaksanaan menunggu;
keheningan cukup
kembali mendengar.


,_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)