PERJAMUAN ISTANA BERDARAH

Di aula agung yang pilar-pilarnya tegak dari ingkar janji,
para Arsitek sibuk mendempul borok dinding ruangan
dengan benang emas dari urat syaraf masa depan.
 
Mereka menyebutnya "Restorasi Kejayaan",
saat sumsum bangunan lumat dikunyah
rayap yang mereka ternakkan di ketiak kekuasaan.
 
Di meja tengah, keangkuhan telah ditata.
Menu utamanya: "Harapan Rebus" di atas perak,
disajikan bagi lidah yang telah tanggal urat tulusnya.
Di luar, perut rakyat mengerang—
simfoni lapar di tengah rimba.
 
Para elit bersulang dengan segelas "Air Mata Rakyat",
disuling lewat pipa dusta hingga terasa manis sepekat nektar.
Mereka bertengkar soal warna taplak meja,
saat pilar-pilar mulai gemertak—
patah oleh beban ego yang obesitas.
 
Lihat sang Badut di pojok itu!
Ia tak melucu, ia mengetik angka palsu.
Statistik bahagia dari mesin tik yang dikebiri;
tanpa huruf "R"—karena Rakyat dan Realitas
adalah duri yang sanggup merobek langit mulut penyamun.
 
Tugas tambahannya:
Tiap kali kayu atasan berderit runtuh,
ia memukul genderang sambil memekik:
"Itu kembang api kemajuan!"
 
Di halaman, tukang kebun bekerja dalam senyap,
Menyemprot parfum mawar pada bangkai integritas.

"Lihat," seringai sang Mandor, "Udara kian bugar!"

Dan bau busuk memang hilang,
tertimbun aroma sintetis yang menyumbat saluran kewarasan.
 
Perjamuan belum usai.
Lilin-lilin dinyalakan dengan membakar lembaran konstitusi—
dianggap terlalu kaku untuk dansa para pemabuk.
Cahayanya terang benderang,
asapnya menghitamkan nurani yang tersisa.
 
Di balik pesta kemegahan istana berdarah ini,
kebenaran adalah yatim piatu yang menggigil tanpa alas kaki.
Menyaksikan para pemain watak menari
di atas rahim Basundari yang diperkosa,
lalu merayakannya—
sebagai pesta kedaulatan bangsa.
 

_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 3 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)