Samudra insan berkelindan
Wajah-wajah berarak bagai rona
memukau, mempesona.
Riuh meriuh diriku dibisik badai. Bergemuruh, menggerutu—
Sepi bersimpuh.
Betapa cinta bisa menjadi rahmat getir.
Menyakitkan
Ketika pelukan diberi jarak teramat lekat mengikat,
berjauhan.
Pikirku tercerai-berai
Menyimpang, tak beraturan bagai tasbih putus.
Biji-bijinya buta berserakan,
doa-doa karam
Hidup bergelimpangan—
berzaman kedalaman.
Kau tahu...
Betapa aku rindu pada setiap kapal yang melintas lewat.
Namun kusadari, lautan penuh akan membuat bahtera tak menemukan arah;
jalur terhalang—.
Mungkin aku harus seperti nelayan memilih pantai sepi untuk memperbaiki jaringnya.
Sekalipun hasrat tumbuh seperti ilalang pada mihrab rindu berwudu dengan air wajah sedih.
Untuk apa beramai-ramai tapi tak punya tempat?
Tak menemukan angin membawa bahtera kembali ke jalur tepat—.
Maka biarlah aku mengembara samudra yang kumukimi sendiri
sebagai bentuk kemerdekaan.
Meski harus mengakrabi gelombang kembali.
_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 24 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar