Sepucuk lembayung

Pada lembayung senja temaram keemasan,
seuntai kuntum memutikkan embun kerinduan.
 
Mulanya, musim
pelataran bersenandung;
Semerbak bagai madah percintaan,
Jantung berdebaran.
 
Lalu waktu menciptakan garis peralihan;
rona beringsut dari wajah harapan.
Helai demi helai jatuh ke pangkuan malam,
menjadi hening, bening dan beralasan.
 
Sekuntum teguh rapuh menawan;
sendu dalam sikap keanggunan,
kesunyian mampu tumbuh di sela tangkai rawan
 
Mari mengolah pucuk demi pucuk menjadi bakal kehidupan.
biar lembayung matang dalam semangkuk berkuah
Semua akan berubah—entah rasa, atau masa.


_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 17 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)