Sesat
Pernah
Aku mendatangi suatu tempat.
Disana, Kewarasan diasuh adat timpang,
akal bersimpuh, tunduk pada kehormatan.
Kejernihan nurani dilipat seperti jubah usang,
sementara kesesatan duduk bertakhta. Bahkan menata hukuman.
Prilakunya condong mengajari neraca memihak;
lalu keberpihakan disebut "adil".
Keburukan berwajah guru sepuh—
fasih merangkai dalih, sabar membujuk nurani.
Akal diralat mufakat berulang,
Lingkungan memeluk sambil mengikis kesadaran,
Sudah tau bengkok masih dijadikan pakem kebenaran.
Begitulah habitat Ular;
lazim dengan kesepakatan keliru,
bahkan kenyataan memutar arah.
Manusia—betapapun mengagungkan kebijaksanaan—
akan diajar sesat oleh sesat yang disayanginya sendiri.
_______
`Karya: Sarah Bneiismael`
Bondowoso, 5 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar