Tak ada lagi penghanyutan
Lengkung senja melarungkan warna.
Hijau menguning.
Cakrawala mengatupkan cahaya pada kelopaknya.
Kabut turun dengan tangan-tangan dingin.
Mabuk, sulur kesadaran terdera.
Aku pernah menjadi daun
yang diyakinkan bahwa gugur adalah tata krama tertinggi.
Uratku kau jadikan kitab arah;
sungai kau ubah menjadi penuntun.
Batang mengangguk saat aku terlepas,
tanah membentangkan telapak takzimnya—
luruh rontok adalah kebijaksanaan.
Aku rebah di punggung arus,
membiarkan sungai membawa garis nasib diri,
mengikuti sabdamu.
Langitmu begitu cerah—
pilu terlihat biru.
Pertanyaan-pertanyaanku silau,
pandanganku ragu—
dan aku selalu mampu mempercayaimu.
Di ujung mata, istana tercipta.
Kau lupa pada daun dan memeluk matahari.
Aku menadah asin dari percakapan terputus;
Perpisahan berlabuh tanpa kata-kata.
Suaramu adalah dalil-dalil kerinduan
bernafaskan pengukuhan.
Mendudukkan amarah di kursi pengadilan,
menyuruhnya merapikan bara,
menghaluskan panas—
hingga api merasa bersalah
sebab berani menyala.
Kekecewaanku bertumbuh
mengakarkan diri,
menggeser dasar keyakinan,
mengendapkan kehancuran.
Tak lagi bisa ditutupi cahaya.
Terlampau lama aku membiarkan diri terdaunkan,
teraruskan,
tertuntun oleh penegasan-penegasanmu.
Sekarang—
ketubuhan ini kubiarkan mengeras.
Menjadi batu berkesadaran.
Membiarkan aliran berlalu—
tak lagi mempengaruhi arahku.
Terkutuklah kamu menjadi hujan.
Dan apabila berani menyentuh tanah,
kupastikan—
kau diuapkan ke langit asalmu.
Tak ada lagi penghanyutan.
Tak ada lagi asin yang dipelihara diam-diam.
_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 19 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar