Utuh
Ranting tua sering terpelanting;
kulit rapuhnya pun sering dirobek oleh cuaca paling akrab.
Luka laku luruh.
Tak ada perih keliru.
Nyeri hati ialah hujan teduh:
jatuh, menyentuh, menumbuh;
menandai benih masih utuh, belum rapuh.
Bila dunia menyejajarkan takdirmu
dengan takdir lain yang tampak lebih gaduh dan berselisih—
ingatlah: Di atas Arasy, tiada ukur keliru
tiada hitung tercela.
Yang tampak ganjil di mata insan,
tetap genap dalam hitung Ilahi.
Sekalipun diguncang riuh penilaian,
kembali tegak di hadirat Yang Maha Mengetahui.
Teguhkan akar, jangan tercerabut kabar.
Sandarkan resah pada Yang Maha Kuasa.
Biarlah riuh berputar di luar pagar—
engkau berakar, sadar, sabar.
Hidup bukan kebun selisih resah,
bukan cermin asing memecah.
Hidup ialah amanah yang basah oleh berkah:
dititipkan, ditumbuhkan,
hingga jiwa rekah, tabah.
Di hadirat-Nya yang Maha Mengerti,
tiada diri tercatat sia-sia.
Engkau cukup menjadi diri—
tumbuh, teduh,
utuh kembali.
______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 20 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar