Airpun harus paham
Arus terkadang selalu bangga pada derasnya—
mengira kuat berarti tanpa jeda,
melaju tanpa bertanya,
menyebut diri paling setia.
Batu keras tak membuatnya gentar;
palung dalam terasa samar.
Luas dianggap ukuran benar;
deras disangka jalan paling tegar.
Namun air tak pernah benar-benar netral.
menyentuh, mengikis, menyerap malam.
Tetes kecil tampak biasa
Menyembunyikan rasa tak kasatmata.
Tebing runtuh —
oleh basah yang tak mengenal penahanan.
Sentuhan terus-menerus
menjadi tenaga beringas.
Sampai arus berubah keruh,
kehilangan diri;
deras berlebih menutup jernih.
Akhirnya air paham:
Mengalir memerlukan tepi.
Kelimpahan tanpa henti
menjadikannya kubang
menenggelamkan diri sendiri.
______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 11 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar