Berhenti menambah

Pernahkah kamu berada di sebuah percakapan yang awalnya sederhana—seperti sebuah pertanyaan dasar, misalnya; satu ditambah satu hasilnya dua.
Semudah itu.
 
Kemudian, satu variabel ditambahkan; persamaan masih masuk akal.
Namun setelah itu, muncul variabel lain: masing-masing membawa asumsi, masing-masing merasa perlu dilibatkan.
 
Struktur yang tadinya lurus mulai bercabang.
Tanda kurung muncul; syarat tambahan disisipkan.
Logika yang awalnya jernih berubah menjadi rangkaian kemungkinan—yang semuanya ingin dipastikan benar.
 
Lalu kita mulai mengulang langkah, mengganti nilai, menghitung ulang dari awal.
Bukan karena persamaannya salah.
Kita hanya ragu pada hasil yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
 
Sampai disini, persoalan sebenarnya tetap sama; yang bertambah hanyalah kompleksitas.
Rumus menjadi panjang: baris demi baris terasa melelahkan, dan jawaban yang dicari justru semakin jauh dari jangkauan.
 
Lalu muncul pertanyaan yang jarang kita izinkan:
Apakah semua variabel ini benar-benar perlu?
Ataukah kita hanya takut menerima hasil yang muncul tanpa campur tangan lebih lanjut?
 
Dalam aljabar, ada saatnya persamaan disederhanakan: variabel yang tidak berpengaruh dieliminasi, asumsi yang berlebihan dilepas—agar inti persoalan dapat terlihat tanpa harus menambah apa pun lagi.
 
Begitulah kehidupan seharusnya berjalan. Tidak semua hal perlu dijelaskan sampai tuntas; tidak setiap keputusan harus dibungkus alasan panjang.
Ada situasi yang cukup dipahami, lalu dijalani.
 
Berhenti menambah, bukan merupakan tanda menyerah dalam berpikir.
Ini adalah tanda bahwa kita sudah cukup jujur pada apa yang sedang terjadi.
 
Mungkin kedewasaan ada di sana: saat seseorang tahu kapan logika perlu bekerja. Memahami kapan harus memberi ruang pada kenyataan yang tidak sepenuhnya bisa kita campuri.
 
Hidup ini seperti dalam persamaan yang terlalu rumit—Pada akhirnya, tidak semua hal menuntut kejelasan.
Beberapa hanya perlu diterima
sebagaimana adanya.

_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 17 Februari 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)