Enggan
Terkadang gunung begitu sombong, menyuarakan diri kokoh—
namun menolak hujan yang sabar menitiskan keluh di pundaknya.
Begitu pula api:
tak peduli siapa yang memikul kayu,
tak peduli siapa yang hangus.
Hanya tahu berkobar,
lalu pergi ketika bara mulai perih.
Betapa ganjil, betapa janggal:
bayang-bayang meratap,
meminta cahaya mulia pada matahari
yang telah menggerakkan siang
tanpa ufuk untuk menunduk, tanpa ruang untuk letih.
Di bawahnya—
akar-akar bersujud dalam tanah,
lirih namun gagah.
Memeluk bumi yang tengah menderita,
menahan longsor.
Nyaris menyeret segala kesetiaan.
Begitulah hidup diajarkan bertahan:
Menyapu halaman
tak pernah setara
dengan menahan musim runtuh di atas kepala sendiri;
tak pernah sebanding
dengan memikul batu kehidupan.
Lihatlah seorang nakhoda di dermaga!
Tetap terhormat,
namanya harum di antara tepuk tangan,
namun kakinya tak pernah disentuh ombak
yang sungguh-sungguh menguji keberanian.
Gelombang dituduh liar dan kejam,
sedangkan dayung sengaja dibaringkan
pada pangkuan keengganan—
tentu, lebih nyaman daripada berjuang.
Ironi paling menjijikkan
bukanlah ketiadaan daya,
melainkan daya yang sadar akan diri
namun sengaja menidurkan akal sehatnya sendiri.
Tahu mampu — memilih beku.
Sekiranya gunung terus enggan menopang,
lembah akan memikul luka yang bukan miliknya.
Sekiranya arah dibiarkan hilang,
laut tak segan menelan jalan,
dan sejarah akan tenggelam.
Pahamilah:
ketika cahaya memilih menjadi kabut,
yang redup bukan sekadar satu wajah—
Seluruh kehidupan
yang pernah dijanjikan untuk dijaga
pun akan meredup juga.
___________
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 1 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar