Langit Bintang Temaram
Langit bintang temaram,
kerlip-kerlip menetes dari kelopak malam;
terlalu lama menahan kelam.
Gelap menghampar.
Terang berpendar.
Keduanya bersekutu dalam cahaya yang cacat.
Aku ada—
kehausan dan meminum asin dari sumber yang tak pernah jernih.
Di dalamku, waktu menggerus dirinya sendiri,
mencabik detik sampai berdarah.
Perasaanku:
samudra menolak pantai,
ombaknya berulang,
menahan riak sendiri.
Tuhan,
izinkan aku murtad sejenak dari diriku sendiri.
Biarkan aku, sejenak menanggalkan kulit dengan luka lebam.
Berikan aku kuasa menggantung jiwa ini pada paku langit paling sunyi,
lalu menjelma apa saja yang tidak memiliki ingatan.
Biarkan aku menjadi angin lewat tanpa dikenali,
selintas cahaya yang tidak mewarisi redup dari kelahirannya,
atau bahkan
ketiadaan yang tak diwajibkan merasa.
Sebab aku telah terlalu lama menjadi wadah bagi hujan,
terlalu setia menadah jatuh,
hingga lelah pun kehilangan rasanya.
Lihat—
bintang-bintang itu berkelip seperti luka yang dipaksa indah,
langit memakainya sebagai perhiasan
untuk menutupi luka diri.
Dan aku belajar dari kebohongan itu:
bahwa terang bisa lahir dari siksaan,
bahwa indah bisa tumbuh dari yang hampir binasa.
Namun tubuh ini tidak lagi pandai berpura-pura,
aku berderak diam-diam,
meratap tak bersuara,
hidup dengan cara yang terlalu dekat pada kesakitan.
Maka sekali saja—
izinkan aku berubah
seperti malam berganti wajah:
kadang siang, kadang malam;
kadang senang, kadang temaram.
_____
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 23 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar