Mafhum

Pada serambi mazbah berjelaga usia,
diriku tertera sebagai ayat jatuh—diredam tilawahnya.
 
Aku bukan peziarah, bukan siapapun.
Aku serpih litani tercelah dan dilucuti.
Pada relung napas, mereka mengaku kiblat.
Hening: Aminku gugur sebelum sempat.
 
Wahai perjamuan berupacara mulia,
aku serpih di kaki prosesi.
Mereka berjubah
aku ditahbiskan bagi takungan sepi bernajis.
 
Diriku—tinta yang diniatkan pudar,
terlempar, gelisah, dilenyapkan.
Suaraku dikurung, dibungkam.
 
Aku paradoks bernyawa:
luka yang merawat sayatan nya sendiri.
 
Tiada silsilah, tiada altar—
Bak sisa ritus tak rampung.
Menggelinding di lorong lengang,
Aku hilang sanad, tiada pengukuhan.
 
Ku haturkan persembahan dari bejana belah,
menuang hampa, enggan kosong—
kelimpahan yang lapar hati,
derma tumbuh dari tiada tara.
 
Tangan nyaris lenyap tetap memberi,
kosong berlutut, memohon untuk diisi penuh.
 
Malam mengidungkan patah relung hati,
pagi mengaminkan tiada saksi mata.
Semesta bersidang sebagai hakim,
keadilan tergelincir di mimbar sendiri.
 
Aku meraba-Mu dalam gelap setitik nyala,
menyebut-Mu dengan napas yang terputus.
Iman tertatih namun menolak tumbang—
tumbang yang tegak, tegak yang tumbang.
 
Kau hadir sebagai sunyi terpenuhi.
 
Jika diriku ambruk di altar waktu,
biarlah aku meretak mengajarkan batu bersyahadat.
 
Jika diriku dilupa oleh ingatan dunia,
biarlah aku kenangan melampaui ingatan.
 
Aku mafhum.
Yang paling ditolak justru paling erat—
erat yang jauh, jauh yang melekat—
pada abadi tak ingin dikenali. 

_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 20 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)