Mari menumbuh saja

Berhenti meretih dahan teduh;
biarkan helai-helai hijau
mengaji desirnya sendiri pada bahu bayu—
setiap daun tahu
cara bersua tanpa gaduh.
 
Kau tau?
Rimba menyimpan petuah purba.
Batang terpancang tanpa bersabda,
akar menjalar,
senyap.

Namun kini, musim lain tumbuh—
Mulut-mulut daun mabuk di pucuk 
puja dipuja, puji memuji,
bunyi memburu bunyi,
hingga sunyi tak lagi dikenali.

Meski demikian, 
Setiap getah harus terus menemukan jalan keluar
sebab hidup tak tumbuh sebab petatah-petitih.
 
Lihatlah rimba dengan jernih—
tak satu pun pohon tumbuh
Kecuali telah di uji.
Mereka tumbuh, sebab akarnya setia
menggali bumi sekalipun temaram.
 
Maka mari menumbuh saja—
lirih seperti akar purba dalam gulita cahaya:
gelap menjernihkan
terang mengasingkan
Tanpa merenggut dahan sesama;
Tak perlu meminjam riuh dunia.
 
Pohon yang sungguh hidup
tak berseru pada langit bisu.


_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 13 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)