Satu kalimat lalu tamat
Pernahkah kamu merasa,
Kemudahan yang terlihat hari ini
dipakai untuk menjelaskan seluruh hidupmu?
Aku pernah.
Dan mungkin, kamu juga.
Memang, seironis itu cara hidup berjalan.
Sebagian orang hanya butuh satu potongan,
lalu merasa sudah memahami keseluruhan.
Melihat sebentar,
menilai dengan cepat.
Seolah perjalanan panjang dapat diganti dengan satu asumsi.
Padahal ada banyak bagian, tidak pernah ikut disaksikan—
bagian saat semuanya ditanggung sendiri;
ketika bertahan bukan suatu pilihan,
Tetapi keharusan.
Tidak ada yang hadir saat itu.
Tidak ada yang benar-benar peduli.
Kamu lelah
Namun, tidak ada tempat untuk mengeluh.
Kamu jatuh, tidak ada yang menangkap.
Kamu diam
karena sudah tidak tahu harus bercerita apa dan kepada siapa.
Dan yang paling menyakitkan,
kamu tetap berjalan
seolah tidak terjadi apa-apa.
Seperti semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Tidak ada yang tahu seberapa hancurnya saat itu.
Tidak ada yang benar-benar ingin tahu.
Lalu ketika situasi sedikit berubah,
hidup tidak lagi sekeras sebelumnya.
Saat ada yang datang membawa pelukan, kasih sayang, dan keringanan.
Kamu dinilai hina.
Lucu, bukan?
Yang orang lain nilai hanya itu.
Hanya saat hidup kita terlihat mudah.
Mereka tidak melihat kita yang dulu.
Tidak melihat bagaimana kita bertahan sendirian.
Tidak melihat malam-malam panjang yang begitu mencekam.
Lalu dengan mudah menyimpulkan segalanya.
Kemudahan dianggap ketergantungan;
kedekatan ditafsir sebagai kepentingan.
Ironis sekali, bukan?
Sesuatu yang panjang dipadatkan;
sesuatu yang dalam disederhanakan.
Sampai pada titik,
Bahkan kita dicap sebagai orang jahat.
Memanfaatkan kebaikan seseorang
demi kepentingan sendiri.
Seolah semua luka yang pernah dilewati
tidak pernah ada.
Seolah kita tidak pernah berjuang sendirian.
Seolah kita hanya seseorang
yang kebetulan beruntung berada di posisi ini.
Kamu mungkin ikut bertanya:
"Apa benar aku ini jahat, materialistis seperti yang mereka kira?"
Aku juga pernah sampai di titik itu.
Kemudian aku menyadari;
tidak semua yang terdengar adalah benar.
Dan ada satu hal yang sering diabaikan:
Ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal, mencintai, menyayangi.
Memilih memberi tanpa harus diminta.
Dia, tidak sembarangan.
Ada sesuatu dalam diri kita.
Sesuatu yang tidak semua orang punya.
Sesuatu yang tidak bisa dipahami
oleh mereka yang hanya melihat sisi buruk.
Ketahuilah!
Kita tidak sekadar "ditolong".
Kita dipilih.
Dipilih untuk tetap ditemani,
dipilih untuk diringankan,
dipilih untuk tidak ditinggalkan.
Dan itu bukan kebetulan.
Jadi, ini bukan sekadar tentang; menerima, memanfaatkan, atau apapun itu.
Ada
Yang melihat diri ini
lebih dalam dari sekadar apa yang tampak.
Dan menerima kebaikan
tidak membuat kita kehilangan diri.
Sebab pada akhirnya,
hidup memang tidak pernah sesederhana
yang orang lain simpulkan.
Dan tidak pernah sesingkat
satu kalimat, lalu tamat.
___
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 2026
Komentar
Posting Komentar