Tidak Semuanya Terlihat
Tidak ada hidup yang sempurna.
Maka, jangan iri pada hidup siapa pun.
Yang tampak tenang di permukaan—
barangkali seperti danau,
telah lama menelan badai.
Airnya jernih.
Namun di dasarnya, tersimpan batu-batu
yang jatuh dari langit kemalangan.
Hidup saya pun pernah riuh oleh pertanyaan.
Pikiran saling bertabrakan,
seperti angin tersesat di lorong sempit.
Perasaan datang silih berganti:
ada yang mengetuk sopan,
ada yang masuk seperti hujan
menerobos pintu.
Ada luka yang tak pernah berbicara.
Ada begitu banyak perasaan dibiarkan hanya duduk diam di sudut waktu,
tanpa pembelaan.
Saya berjalan melewatinya.
Sebab diam kadang lebih cukup
daripada banyak penjelasan.
Lama-lama, riuh itu mereda.
Hati mulai mengerti:
tidak semua pertarungan perlu dimenangkan.
Ada yang cukup dilepaskan.
Dari situ, ketenangan muncul—
seperti rumput kecil
yang berani tumbuh dari retakan batu.
Jika suatu hari kamu melihat seseorang bahagia,
jangan mengira hidupnya tak pernah diterpa badai.
Senyum sering tumbuh
dari tanah yang pernah basah oleh air mata.
Kita kerap menginginkan kebahagiaan orang lain,
namun jarang bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita siap memikul
cerita yang sama?
Setiap ketenangan memiliki jejak,
Setiap senyum membawa harga.
Maka, jangan iri pada hidup siapa pun.
Lebih baik berjalan dengan hidup sendiri—
Bertahan,
dengan hati yang mulai berdamai.
Kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa luka.
Kebahagiaan adalah langkah yang tetap bergerak,
meski kehidupan berkali-kali
mencoba mematahkan arah.
Mari bersyukur, maka kita tidak akan merasa kurang suatu apapun.
______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 10 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar