Postingan

Hening catatan langit

Ada saat ketika hati ingin menyerah, namun tetap menyimpan seutas hangat yang tak hilang meski disentuh sepi. Dalam hening semacam itu, kita duduk bersama angan Membiarkan malam merawat gelisah. Angin datang perlahan, membawa isyarat.  mungkin dari doa yang terlupa, Atau dari rahmat yang selalu mendahului permintaan. Ada sinar lembut yang menyentuh nurani, serupa kasih yang turun diam-diam: Menjadi pelipur dan menenangkan. Dulu, kita menyangka pasrah adalah kekuatan besar; padahal ia belai lembut yang tumbuh dari relung terdalam. Mencari jalannya sendiri tanpa memaksa jiwa menjadi lebih tabah dari kemampuan. Ia datang seperti pelukan gaib yang membuat kita berhenti melawan diri sendiri. Setiap air mata adalah harapan  untuk jiwa yang tak sanggup bertutur dalam doa. Dan langit tetap mencatatnya. Dan betapa indahnya mengetahui: Resah paling kecil yang kita sembunyikan di balik nurani pun tetap diterima. sebagai bagian dari perjalanan kembali kepada-Nya. “Ya Allah, jika hanya ter...

Sang Bingung (Bukan Lagi)

Aku ada. Aku sadar. Aku milikku—utuh. Tak kupinjamkan diri. Tak kubiarkan hati diarahkan siapa pun. Aku tegak Aku koma  Sudah menetapkan titik. Biarkan mereka bersuara— Tak mau kudengar pendar-pendar nanar yang membuatku terkapar. Aku tenang Sekarang Suara hati— lirih, pekat, lekat— Teguh Aku cukup Aku layak Teduh  Simpul runtuh Ruang terbuka Aku menguat Aku pulih Aku terus maju— tak terbendung Aku Bukan Sang Bingung. ________ Karya: Sarah Bneiismael, Kiky 08 Desember 2025 Bondowoso, Yogyakarta.

Cinta harus diperjuangkan

Cinta adalah arus pengguncang ruang terdalam, menggerakkan keberanian dari tidur panjang. menyalakan inti batin dan tiap getar, bangkit sebagai komando untuk maju. Langkah tidak menunggu dalih. Tubuh bergerak karena nurani menuntut ketegasan. Aku menolak tunduk sebelum bertarung. Cinta adalah suluh yang menuntut genggaman utuh, Tak perduli panasnya menggoreskan luka.. Jika harus runtuh, biarlah runtuh setelah seluruh tenaga terbakar habis dan meredup dalam kejujuran paling jernih. Cinta, sebelum direlakan, harus dituntaskan hingga peluang terakhir jatuh dengan kehormatan. _______ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 9 Desember 2025

Perubahan adalah pertumbuhan

Suatu hari, kita akan menyadari bahwa ada banyak hal yang perlahan kehilangan gengsinya di dalam diri. Hal-hal yang dulu membuat kita berdebar kini tak lagi menyentuh apa-apa. Kita menatapnya lagi, dan entah sejak kapan, pesonanya telah mereda, seolah waktu yang menggeser letaknya di hati. Orang-orang yang dulu terasa seperti rumah kini berjalan dengan irama yang berbeda. Percakapan yang dulu mengalir tenang, tak lagi mencapai dasar yang sama; bukan sebuah masalah, hanya perubahan arah yang terjadi secara alami. Cara berpikir kita juga perlahan bergeser, seperti sungai yang menemukan jalur baru setelah musim panjang. Dulu kita menerima banyak hal demi menjaga suasana tetap nyaman; sekarang kita memilih mana yang sehat untuk jiwa. Dulu kita merangkul apa saja yang datang, kini kita memberi ruang hanya bagi yang selaras. Ada ketegasan yang tumbuh dari dalam— ketenangan yang membuat kita berkata, “aku sudah tidak berada di tempat yang sama.” Pada akhirnya, kita memang akan mengambil jalan...

Luka

Dunia menabur benih bagi penyesalan, namun setiap luruh bahasa , tak menjangkau inti diriku. Ada malam ketika hatiku menjadi serambi kening bagi kecupan-kecupan yang enggan pergi, dan aku seperti penjaga diguyur letih ingin merengkuh kembali serpih-serpih yang pernah kutitipkan pada hidup. Kusadari, terdapat luka yang ditakdirkan sebagai suluh yang tak rela padam— menuntunku pada jalan yang tak mampu kulihat dengan mata sendiri. Kupersembahkan hati menjadi cekungan teduh, tempat keliru bertumbuh tanpa menenggelamkan tenang. Tak kubiarkan benak tersesat ke dalam belantara hingga lupa arah pulang. Wahai luka, engkau hadir seperti peziarah renta Pembawa kendi sarat makna. Setiap langkahmu memanggilku merunduk lebih rendah agar congkak luruh di bawah rimbun pengertian. Maka biarlah yang terbelah tetap menjadi bilik rahasia dalam batin— tempat menyendiri yang telah kuakrabi. Sebab aku tahu, di balik setiap denyar perih yang membelenggu ada hikmah yang menunggu. Dan aku, siap menyambutnya. _...

Teduh

Di saat amarah bergejolak, kita belajar bahwa diam membawa hati pada keteduhan yang Allah jaga bagi jiwa yang gelisah. Manusia bisa melukai dalam ketidaksadarannya. Namun Allah menggenggam urat hidup kita, membiarkan kelembutan-Nya Menyerap ke ruang terdalam yang jarang kita sentuh. Ada kata-kata yang jatuh di jalan; tidak perlu kita pungut kembali. Cukuplah kita melangkah dengan hati yang menaut kepada-Nya— Dia yang mengenali setiap desir. Ketika pertolongan-Nya turun, hati akan mengerti arah, meski dunia tampak seperti kabut kalut. Ada penuntun halus yang mendahului langkah, dan kita hanya perlu mendengarnya di sela napas yang merindu keteduhan. Ya Allah, jadikan dunia bagi kami sekadar persinggahan yang wajar. Lapangkan jiwa agar senantiasa tahu bahwa akhirat-Mu adalah yang paling tenang— tempat segala resah menyandarkan gundahnya kepada penjagaan-Mu. Jika hati tersentuh perih oleh manusia, Engkaulah yang memuluskannya kembali seperti Engkau menenangkan gelombang dengan satu isyarat...

Berhenti mengejar dan mulai bersyukur

Ada masa ketika aku terlalu sibuk mengejar apa yang tampak sempurna di mata manusia lain. Melupakan fakta bahwa kesempurnaan tak pernah memiliki tepi. Ia seperti horison: semakin kudekati, semakin menjauh. Dalam kelelahan itu, aku mulai mengerti bahwa hidup hanya memintaku hadir dengan hati yang jujur. Perlahan aku belajar merawat syukur Pada apa-apa yang telah kumiliki . Pada proses yang membentukku, dan pada keterbatasan yang justru menuntunku mengenali rendah hati. Seperti fajar yang mengusap kaca jendela Ada ketenangan yang menyelinap ketika aku berhenti menimbang diriku di atas pandangan yang silih berganti. Maka aku memilih berjalan dengan langkah sederhana yang penuh kesungguhan. Ku upayakan yang terbaik.  Dan selebihnya memang harus kulepas. Biarlah orang menafsir sesukanya. Setiap mata menyimpan bias, setiap hati membawa riwayatnya sendiri. Yang penting, aku terus belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih lapang, lebih ikhlas. Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan ...