Postingan

Akhir tahun menanti pagi

Akhir tahun melangkah pada malam yang lembut, lapisan langit mulai mengungkap warna pagi. Segala upaya telah dituangkan dengan sepenuh hati, menundukkan diri pada setiap takdir yang menyapa lembut.   Beberapa harapan masih melayang di ruang antarbintang, ada pula yang meresapi dedaunan pagi. Tak perlu berkecil hati atau menyimpan beban dalam hati, semua adalah bagian dari jalan yang kita lalui.   Waktu membawa warna hidup, mengalir lembut dan tenang, menyimpan setiap detak di dalam sanubari. Kebahagiaan membuat hati riang, penuh semangat, kesedihan membuat mata seperti kolam embun malam.   Beratnya beban dan ringannya harapan telah dirasakan dalam-dalam, semuanya berkesan dalam cerita hidup yang kita miliki. Tak pernah ada yang sempurna. Yang terpenting adalah, kita tetap berdiri tegak dan melangkah dengan yakin ke depan.   Desember datang dan berakhir dengan kedamaian. Jadi, mari kita merenung dan melepaskan segala beban. Tak ada yang tahu apa yang akan menyapa esok...

Mari Menarik diri

Ada fase ketika kehadiran dijalani sebagai kebiasaan yang dinilai cukup.   Datang dengan langkah yang terukur, bertahan dengan hati yang masih menanti. Waktu diberikan, perhatian dijaga, ruang disediakan. Semua bergerak tenang, seolah arah akan menemukan dirinya sendiri.   Namun perjalanan tidak selalu berujung sampai pada tujuan. Kehadiran yang berulang dapat diterima tanpa pernah dipilih. Yang datang menjadi latar yang perlahan hilang konturnya, yang setia berubah menjadi asumsi yang tidak pernah diperiksa. Di sana, arti mulai dikikis—perlahan, tidak lagi diperhatikan.   Diam yang terlalu panjang seperti jurang yang terus membesar, Respon yang tertunda seperti kabar yang tak pernah datang. Kedekatan hadir hanya saat perlu, lalu menjauh begitu saja. Tidak ada penolakan yang jelas, tidak ada keputusan yang diucapkan.   Kesetiaan terus berjalan seperti ritual harian. Tenang. Konsisten. Menyerupai doa yang diulang tanpa pengeras suara— tetap tulus, namun terkadang lupu...

Hukum lautan

Aku adalah lautan yang pernah membuka setiap selatannya. Pada setiap kapal yang mencari peruntungan tanpa pernah mengukur seberapa berat muatan yang kugiring pada isi kedalaman.   Kututurkan setiap ombak sebagai sapaan hangat, kubasuh setiap dermaga dengan air yang kusimpan dari awan surgawi. Keyakinan pernah berkata kepadaku, bahwa kebaikan adalah bahasa yang tak perlu terjemahkan.   Namun matahari menyinari pasir yang kusembunyikan, dan aku melihat jejak kaki menginjak-injak hamparannya. Mereka yang melautiku dengan keserahakan, Lalu marah ketika aku berombak dan menenggelamkan kapalnya. Itulah kenapa, aku mulai membatasi diri dari pelaut, pelayar, pengendara kapal atau siapapun itu. Kubangun tembok dari batu-batu Untuk menetapkan batas yang jelas. Siapa yang berkata mampu membelah lautan? Kupastikan mereka tenggelam sebelum sempat mengarungi samudra ku. Aku masih lautan; membuka selatan untuk kapal yang bersedia berdamai dengan ombakku, Memahami setiap riak dan desir air. T...

Dermaga dan sang pelayang

Sang Pelayang Layar menari bersama angin luput, datang dari bintang yang kehilangan arah, melukis jalur bulan luntur di ufuk. Matamu kompas bagi arah yang belum tiba, tanganmu dayung— nyanyian legenda laut. Tak pernah terjamah. Kau sapa ombak yang jauh, Hingga bisik pantai menyusupi relungmu, Lalu matahari menyorot wajahku: sebuah dermaga berdiri teguh di tepian. Akulah dermaga. Batuan yang bertumbuh saat ombak pertama memeluk pantai. Kau bicara tentang badai, takut lambung kapalmu digigit gelap, layar lupa terbang dan bergelantungan di langit ragu. Kau kira pelayaran Hadir tanpa tempat kembali. Ketahuilah — pelayaran sejati selalu punya dermaga, meski kapal harus menjauh untuk mengenali lautnya. Kau membungkus diri dengan kabut bingung. Embun dan keraguan berputar, hingga angin pulang memanggil dirimu. Bersama pelukan fajar kapalmu akhirnya bersua, menyandar padaku. Dan bersama malam kuceritakan kembali tentang bulan— saat layarmu berhenti sejenak. Kau peluk aku di tepian, kuhangatkan...

Bulan di seberang pagar

Bulan adalah tetangga yang tinggal di seberang pagar. Dari langit dia melihat aku setiap malam, ketika aku duduk di lantai belakang rumah, menahan napas hingga rasa sakitnya mengeras di antara tulang rusuk. Dia tidak mengeluarkan suara, hanya menyinari pagar bambu yang kususun sendiri, menjadikan setiap bilahnya jelas terlihat seperti garis-garis yang memisahkan aku dari semua yang ada di luar.   Aku belajar dari ibuku: apa yang menyakitkan harus disimpan di dalam, agar tidak membuatnya harus bangun dari tempat tidurnya tengah malam. Jadi aku susun batu demi batu di ruang dalam diriku— setiap ejekan membuat batu tambahan terasa lebih berat di pundak, setiap rasa malu membuat celah di antara batu semakin sempit, setiap ketidakadilan membuat batu tersebut menancap lebih dalam pada relung hati.   Bulan mengamati dari posisinya yang tetap—dia tahu kapan aku menangis dengan mata terbuka, kapan aku tersenyum padanya padahal tubuhku sedang menggigil, kapan aku berdiri diam di bawahny...

Kisah anak pohon kayu manis

Aku datang ketika kebun mulai mengering— matahari telah lama memanaskan tanah hingga mengelupas, langit hanya menjawab dengan hembusan udara panas yang kering.   Hanya satu pohon kayu manis berdiri tegak, batangnya melengkung seperti tangan yang meraih jauh, kulitnya retak-retak seperti kertas tua yang dilipat berkali-kali, setiap celahnya menyimpan jejak hari-hari yang lalu.   Aku adalah tunas di pangkal batangnya, akar-akarku menancap di dalam tanah yang sama— tempat dia menyimpan semua cerita badai dan kekeringan.   Telingaku adalah celah di kulitnya, setiap hembusan angin membawa bisikan: tentang badai yang menerjang, tentang air yang harus dicari jauh-jauh, tentang buah yang diberikan sebelum sempat matang.   Kisah-kisah itu meresap seperti air lewat akar— tidak membuat basah permukaan, tapi membuat tanah dalamku penuh dan berat.   Aku belajar menjadi daun yang tidak bergoyang, membaca irama napasnya ketimbang mengikuti angin untukku sendiri. Paradoks dalam...

Aku dan biarkan angin berlalu

Di Tempat dimana Langit dan Tanah Bersatu Pasir-pasirnya tersusun dengan harmoni alam, setiap satu membawa esensi tersendiri. Tak ada jejak yang pernah mengakar di permukaannya, tak ada sosok yang pernah meluangkan waktu untuk merenungi apa yang ada di bawah lapisannya. Berdiri utuh dalam kesendirian dianggap Cacat. Pengetahuan tumbuh dari ego sendiri.   Angin Berkelana melintas dengan gesit tanpa tujuan pasti, menyapu segala yang ditemuinya dengan hembusan yang semena-mena, mengangkat ekspektasi sebagai bukti tak terbantahkan. Mari sepakati, menybutnya: Si cacat logika  Pembawa zarah gelap. Menyatakan kepahitan yang tak pernah dialami, mengaku memahami meskipun tak pernah mendalami.   Tunas Kokoh Berdiri tegak dengan duri. Menyembunyikan kedamaian, Menyaksikan bagaimana angin mempengaruhi seluruh entitas. Tempat air yang dulu jernih, mulai melihat dengan pandangan keruh, semak-semak yang tumbuh di sekitar mulai menjauhi tanpa alasan. Merasa jadi penuntun yang paling cerd...