Postingan

Pasang surut laut

Cinta seperti pasang laut, patuh pada tarikan bulan. Tak pernah menyentuh langit, namun dasar di relung hatiku bergeser karenanya. kusaksikan bagaimana sesuatu tak terlihat mampu mengubah arus, memindahkan karang, menata ulang kedalaman.   Rasa kerap menjadi kilat— cepat, pekat, lewat. Ombak berkejaran, buih berkilauan; dasar menyimpan desakan.   Kau tau? Tenang menyimpan tegang. Hening mengandung gelombang. Terang bersanding bayang.   Meski arus tak berisik, dia tetap mengiris. Bergerak, menggeser haluan. Butir demi butir cadas berpindah; palung meluas, samudra bernafas.   Meski begitu  Ombak riuh lekas luruh. Laut bergetar. Yang singgah beringsut; yang tenggelam mengendap didalam.   Di antara pasang dan surut Laut boleh kalut; dasarku tetap terpaut. ___________ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 19 Februari 2026

Lebih dari segala warna

Perasaanku padamu seperti cahaya yang tidak menyilaukan—cukup terang untuk terlihat, cukup lembut untuk tidak memaksa. Aku menyukaimu dengan kesadaran utuh, tanpa hasrat menjadikannya piala atau bukti kemenangan.   Kau merespons dengan indah, seperti pelangi yang melengkung selepas hujan. Warnanya memikat, sapamu hangat. Namun, keindahan itu sering hanya singgah. Pesan datang seperlunya, perhatian berpendar sesekali—cukup menumbuhkan harap, tidak cukup menjadi arah.   Ragu adalah musim yang wajar. Tetapi, musim yang terlalu lama tinggal pasti berubah menjadi penundaan. Di sanalah kesadaraku menegakkan diri, membedakan pesona yang memikat dan keputusan menetap.   Sekalipun aku mencintaimu, keberpihakanku tetap pada diriku sendiri. Cinta tidak boleh mengecilkan martabat, tidak pula layak ditukar nilai dengan harap. Aku bukan ruang kosong untuk diwarnai sesuka hati.   Jangan sepelekan keteguhan ini. Dan jangan ubah hitamku dengan basa-basi pelangimu.   Aku tidak ak...

Pohon

Jangan mencuci diri di sungai yang sejak awal mengalir dari selokan.   Airnya tak pernah berniat jernih— Selalu memantulkan wajah wajah dungu. Terlihat penting di permukaan keruh.   Ketahuilah! Mereka yang mencintaimu tidak melihat angin; mereka paham bahwa kau adalah pohon. Paham bagaimana akarmu Mengakrabi tanah. Melihat bagaimana kau tetap tegak, meski musim mencoba mematahkan. Integritas layaknya matahari Tak perlu memvalidasi dirinya terang, setiap pagi pasti kembali, tanpa perlu membela diri pada gelap malam.   Dan mereka yang memilih ragu Sama halnya dengan jendela tertutup: seberkas cahaya pun akan dianggap gangguan.   Tidak semua badai harus kau debat. Beberapa angin hanya ingin Memastikan kau kehilangan arah. Bahkan terkadang, petir sekalipun hanya ingin mendengar suaranya sendiri.   Biarkan kabar berputar seperti daun kering yang lupa pohonnya.   Tugasmu bukan menjadi pengeras suara. Tugasmu menjadi pohon: Kuat tumbuh wajar jernih dalam berprilak...

Samudra insan berkelindan

Wajah-wajah berarak bagai rona memukau, mempesona.   Riuh meriuh diriku dibisik badai. Bergemuruh, menggerutu— Sepi bersimpuh.   Betapa cinta bisa menjadi rahmat getir. Menyakitkan Ketika pelukan diberi jarak teramat lekat mengikat,  berjauhan.   Pikirku tercerai-berai Menyimpang, tak beraturan bagai tasbih putus. Biji-bijinya buta berserakan, doa-doa karam Hidup bergelimpangan— berzaman kedalaman.   Kau tahu... Betapa aku rindu pada setiap kapal yang melintas lewat. Namun kusadari, lautan penuh akan membuat bahtera tak menemukan arah; jalur terhalang—.   Mungkin aku harus seperti nelayan memilih pantai sepi untuk memperbaiki jaringnya.   Sekalipun hasrat tumbuh seperti ilalang pada mihrab rindu berwudu dengan air wajah sedih.   Untuk apa beramai-ramai tapi tak punya tempat? Tak menemukan angin membawa bahtera kembali ke jalur tepat—.   Maka biarlah aku mengembara samudra yang kumukimi sendiri sebagai bentuk kemerdekaan. Meski harus mengakrab...

Utuh

Ranting tua sering terpelanting; kulit rapuhnya pun sering dirobek oleh cuaca paling akrab.   Luka laku luruh. Tak ada perih keliru. Nyeri hati ialah hujan teduh: jatuh, menyentuh, menumbuh; menandai benih masih utuh, belum rapuh.   Bila dunia menyejajarkan takdirmu dengan takdir lain yang tampak lebih gaduh dan berselisih— ingatlah: Di atas Arasy, tiada ukur keliru tiada hitung tercela.   Yang tampak ganjil di mata insan, tetap genap dalam hitung Ilahi. Sekalipun diguncang riuh penilaian, kembali tegak di hadirat Yang Maha Mengetahui.   Teguhkan akar, jangan tercerabut kabar. Sandarkan resah pada Yang Maha Kuasa. Biarlah riuh berputar di luar pagar— engkau berakar, sadar, sabar.   Hidup bukan kebun selisih resah, bukan cermin asing memecah. Hidup ialah amanah yang basah oleh berkah: dititipkan, ditumbuhkan, hingga jiwa rekah, tabah.   Di hadirat-Nya yang Maha Mengerti, tiada diri tercatat sia-sia. Engkau cukup menjadi diri— tumbuh, teduh, utuh kembali. ...

Tak ada lagi penghanyutan

Lengkung senja melarungkan warna. Hijau menguning. Cakrawala mengatupkan cahaya pada kelopaknya. Kabut turun dengan tangan-tangan dingin. Mabuk, sulur kesadaran terdera.   Aku pernah menjadi daun yang diyakinkan bahwa gugur adalah tata krama tertinggi. Uratku kau jadikan kitab arah; sungai kau ubah menjadi penuntun.   Batang mengangguk saat aku terlepas, tanah membentangkan telapak takzimnya— luruh rontok adalah kebijaksanaan.   Aku rebah di punggung arus, membiarkan sungai membawa garis nasib diri, mengikuti sabdamu.   Langitmu begitu cerah— pilu terlihat biru. Pertanyaan-pertanyaanku silau, pandanganku ragu— dan aku selalu mampu mempercayaimu.   Di ujung mata, istana tercipta. Kau lupa pada daun dan memeluk matahari. Aku menadah asin dari percakapan terputus; Perpisahan berlabuh tanpa kata-kata.   Suaramu adalah dalil-dalil kerinduan bernafaskan pengukuhan. Mendudukkan amarah di kursi pengadilan, menyuruhnya merapikan bara, menghaluskan panas— hingga api ...

Bulan sepi

Langit menyentuh wajah bundar dengan jemari biru gemetar, bintang-bintang merapat meniup sayur-sayup rindu. Pijar pun memucat. Saat laut mengusap pergelangan tangan, menarik pasang dari tulang sunyi; Malam melingkari pinggang bundar, lekat. Ingin menetap. Bulan Terlalu lama menjadi wajah singgah Digantung bersama harapan. Terlalu lama bermalam dengan kerinduan.   Makan izinkan melepas diri dari pakuan langit Biar pendar ditarik relung terdalam.   Beri waktu duduk memeluk kelamnya. Menyisir gelap, memadamkan bara; memenjara.   Terang merindukan teduh Tinggi mendambakan tanah.   Bulan sendiri, Berpendar Terlantar Sepi   _______ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 17 Februari 2026