Postingan

Berhenti menambah

Pernahkah kamu berada di sebuah percakapan yang awalnya sederhana—seperti sebuah pertanyaan dasar, misalnya; satu ditambah satu hasilnya dua. Semudah itu.   Kemudian, satu variabel ditambahkan; persamaan masih masuk akal. Namun setelah itu, muncul variabel lain: masing-masing membawa asumsi, masing-masing merasa perlu dilibatkan.   Struktur yang tadinya lurus mulai bercabang. Tanda kurung muncul; syarat tambahan disisipkan. Logika yang awalnya jernih berubah menjadi rangkaian kemungkinan—yang semuanya ingin dipastikan benar.   Lalu kita mulai mengulang langkah, mengganti nilai, menghitung ulang dari awal. Bukan karena persamaannya salah. Kita hanya ragu pada hasil yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.   Sampai disini, persoalan sebenarnya tetap sama; yang bertambah hanyalah kompleksitas. Rumus menjadi panjang: baris demi baris terasa melelahkan, dan jawaban yang dicari justru semakin jauh dari jangkauan.   Lalu muncul pertanyaan yang jarang kita izinkan: Apak...

Perjalanan ini akan selalu memiliki kemungkinan untuk bergerak ke arah yang lebih luas

Beberapa waktu terakhir, kehidupan terasa dipenuhi kegelisahan yang menyelinap di sela-sela hari yang tampak biasa. Pagi dibuka oleh kabar tentang harga yang semakin berat dipikul; siang dihabiskan untuk menunaikan kewajiban yang tak kenal lelah; malam sering berakhir di hadapan angka-angka yang menunggu keputusan. Banyak orang tetap menjalani rutinitas dengan tatapan yang tenang, sementara di dalam batin tersimpan pertanyaan yang belum menemukan tempat berlabuh.   Di banyak rumah, meja makan telah diam-diam berubah menjadi ruang perundingan antara kebutuhan dan kemampuan. Angka-angka duduk di sana dengan sikap yang tegas, menunggu untuk ditata dengan kesabaran agar hari esok tetap memiliki makna. Di dalam kepala, pikiran berjaga seperti penjaga malam—menyisir setiap kemungkinan, merapikan setiap kekhawatiran, menjaga harapan agar tidak tercerai oleh derasnya arus keadaan.   Keresahan kini semakin akrab dalam perjalanan hidup. Perasaan tertinggal kadang muncul tiba-tiba saat m...

Mari menumbuh saja

Berhenti meretih dahan teduh; biarkan helai-helai hijau mengaji desirnya sendiri pada bahu bayu— setiap daun tahu cara bersua tanpa gaduh.   Kau tau? Rimba menyimpan petuah purba. Batang terpancang tanpa bersabda, akar menjalar, senyap. Namun kini, musim lain tumbuh— Mulut-mulut daun mabuk di pucuk  puja dipuja, puji memuji, bunyi memburu bunyi, hingga sunyi tak lagi dikenali. Meski demikian,  Setiap getah harus terus menemukan jalan keluar sebab hidup tak tumbuh sebab petatah-petitih.   Lihatlah rimba dengan jernih— tak satu pun pohon tumbuh Kecuali telah di uji. Mereka tumbuh, sebab akarnya setia menggali bumi sekalipun temaram.   Maka mari menumbuh saja— lirih seperti akar purba dalam gulita cahaya: gelap menjernihkan terang mengasingkan Tanpa merenggut dahan sesama; Tak perlu meminjam riuh dunia.   Pohon yang sungguh hidup tak berseru pada langit bisu. _____ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 13 Maret 2026

Tidak Semuanya Terlihat

  Tidak ada hidup yang sempurna. Maka, jangan iri pada hidup siapa pun.   Yang tampak tenang di permukaan— barangkali seperti danau, telah lama menelan badai.   Airnya jernih. Namun di dasarnya, tersimpan batu-batu yang jatuh dari langit kemalangan.   Hidup saya pun pernah riuh oleh pertanyaan. Pikiran saling bertabrakan, seperti angin tersesat di lorong sempit.   Perasaan datang silih berganti: ada yang mengetuk sopan, ada yang masuk seperti hujan menerobos pintu.   Ada luka yang tak pernah berbicara. Ada begitu banyak perasaan dibiarkan hanya duduk diam di sudut waktu, tanpa pembelaan.   Saya berjalan melewatinya. Sebab diam kadang lebih cukup daripada banyak penjelasan.   Lama-lama, riuh itu mereda. Hati mulai mengerti: tidak semua pertarungan perlu dimenangkan. Ada yang cukup dilepaskan.   Dari situ, ketenangan muncul— seperti rumput kecil yang berani tumbuh dari retakan batu.   Jika suatu hari kamu melihat seseorang bahagia, jangan ...

Tetap melangkah, jangan menyerah

Suatu waktu muncul pertanyaan di dalam diri: "Apa yang sebenarnya tidak bisa kulakukan dalam hidup ini?"   Pertanyaan itu membuat pandangan berbalik ke belakang. Jalan yang telah dilewati ternyata panjang. Banyak beban pernah datang, banyak persoalan pernah singgah. Sebagian terasa berat saat dijalani, namun waktu membawanya pergi seperti musim yang silih berganti.   Langkah demi langkah terbentuk tanpa banyak sandaran. Masalah datang, dihadapi. Kesulitan muncul, dilalui. Semua berjalan begitu saja, seperti hari-hari yang tampak biasa namun menyimpan banyak pergulatan.   Tanpa banyak disadari, perjalanan perlahan membentuk sesuatu. Seperti air yang terus menyentuh batu hingga mengubah bentuknya, pengalaman menegaskan ketahanan. Seperti pohon yang sering disentuh angin, akar kian menancap dalam pada tanah.   Lalu aku menyadari. Banyak hal yang dahulu terasa sulit ternyata dapat dilewati.   Barangkali kamu juga sedang berada di jalan yang serupa—menjalani hari den...

PATINA

Cahaya secuil menyulut musim misuh; senyum diseret sendu sabda semu.   Saat serbuk karat menggerogoti: hening hiruk, dingin membara, tenang tegang.   Lidah: palu gelisah— riwayat dipalu menyatu pelat percakapan; paku demi paku dihantam: dentum dendam.   Rapuh menginjak rapuh— ritus ringkih riuh; pikiran cacat, akal sehat luruh.   Palu berayun, pelat tunduk— telinga dungu menadah suara disangka petuah.   Ketahuilah: logam tua memelihara hukum kekal— paku tak pernah menegakkan baja, palu tak pernah memuliakan besi.   Sesungguhnya karat menyimpan rahasia getir: Jangan menyangka badai mampu mematahkan besi kecuali telah terlapis oleh serpih halus yang disangka emas.   Begitulah patina.      _________ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 6 Maret 2026

Enggan

Terkadang gunung begitu sombong, menyuarakan diri kokoh— namun menolak hujan yang sabar menitiskan keluh di pundaknya.   Begitu pula api: tak peduli siapa yang memikul kayu, tak peduli siapa yang hangus.   Hanya tahu berkobar, lalu pergi ketika bara mulai perih.   Betapa ganjil, betapa janggal: bayang-bayang meratap, meminta cahaya mulia pada matahari yang telah menggerakkan siang tanpa ufuk untuk menunduk, tanpa ruang untuk letih.   Di bawahnya— akar-akar bersujud dalam tanah, lirih namun gagah.   Memeluk bumi yang tengah menderita, menahan longsor. Nyaris menyeret segala kesetiaan.   Begitulah hidup diajarkan bertahan:   Menyapu halaman tak pernah setara dengan menahan musim runtuh di atas kepala sendiri; tak pernah sebanding dengan memikul batu kehidupan.   Lihatlah seorang nakhoda di dermaga!   Tetap terhormat, namanya harum di antara tepuk tangan, namun kakinya tak pernah disentuh ombak yang sungguh-sungguh menguji keberanian.   Gel...