Berhenti menambah
Pernahkah kamu berada di sebuah percakapan yang awalnya sederhana—seperti sebuah pertanyaan dasar, misalnya; satu ditambah satu hasilnya dua. Semudah itu. Kemudian, satu variabel ditambahkan; persamaan masih masuk akal. Namun setelah itu, muncul variabel lain: masing-masing membawa asumsi, masing-masing merasa perlu dilibatkan. Struktur yang tadinya lurus mulai bercabang. Tanda kurung muncul; syarat tambahan disisipkan. Logika yang awalnya jernih berubah menjadi rangkaian kemungkinan—yang semuanya ingin dipastikan benar. Lalu kita mulai mengulang langkah, mengganti nilai, menghitung ulang dari awal. Bukan karena persamaannya salah. Kita hanya ragu pada hasil yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Sampai disini, persoalan sebenarnya tetap sama; yang bertambah hanyalah kompleksitas. Rumus menjadi panjang: baris demi baris terasa melelahkan, dan jawaban yang dicari justru semakin jauh dari jangkauan. Lalu muncul pertanyaan yang jarang kita izinkan: Apak...