Postingan

Hari ini saja (Revisi)

Kutemui fakta Bahwa hidup tidak selalu menuntut kemenangan. Kadang hanya meminta napas yang cukup panjang untuk menyeberangi hari. Kebutuhan layaknya deret di papan kotor. sementara pendapatan datang sebagai kemungkinan. Tak pasti. Dan aku berada di sebuah tubuh yang berusaha tetap waras. Mengira kuat adalah tak tergoyahkan. Lalu, Aku memahami. Kuat berarti; tetap melangkah meskipun sambil gemetar. Berjalan dengan pikiran riuh, menawar harapan agar tidak membebani diri. Ada hari-hari ketika doa kehilangan kata, menyusut menjadi satu permintaan: "Hari ini saja, cukup."  Mari kesampingkan harapan. Sudahi imajinasi tentang masa depan yang megah; Satu hari tanpa runtuh sudah terasa indah. Bertahan hidup ternyata bukan soal menaklukkan apa pun. Lebih mirip keputusan harian tentang apa yang masih layak diutamakan: makan seadanya, tidur seperlunya, dan hati yang tak terus dipaksa merasa bersalah. Jika hidup adalah perjalanan batin, barangkali aku sedang berada di bagian yang paling ...

Berhenti Menjadi Korban (Revisi)

Ada saat ketika aku mengira setiap yang kupeluk akan abadi. Dunia: Rupanya, selalu menyiapkan langkah di balik gemerisik rahasia yang belum pernah menjangkau tepi pengetahuanku. Di telapak tangan ada garis-garis yang semakin dalam Sebab aku menahan sesuatu yang sejak lama memohon untuk dibiarkan luruh. Malam datang dengan bau teduh, menyampaikan bahwa kehilangan tak pernah benar-benar merampas apa pun, kecuali memindahkan beban ke tempat yang lebih siap menampungnya. Perlahan, harapku mencair seperti embun berserah diri pada matahari; penyesalan pun beterbangan, menjadi serpih angin; tak memerlukan petunjuk. Aku berhenti menjadikan diri sebagai korban dari apa yang sudah lewat; setiap detik yang jatuh menghapus bayangan-bayangan yang dulu kukira bagian hidup. Dan ketika genggaman itu akhirnya kulepas, ruang kosong yang tertinggal tidak menyerangku lagi; Justru membuka sejenis jalan pulang— tempat seluruh beban menjadi ringan, menjadi jernih. Menjadi manusia yang tak lagi takut pada ben...

Satu kalimat lalu tamat

Pernahkah kamu merasa, Kemudahan yang terlihat hari ini dipakai untuk menjelaskan seluruh hidupmu?   Aku pernah. Dan mungkin, kamu juga. Memang, seironis itu cara hidup berjalan. Sebagian orang hanya butuh satu potongan, lalu merasa sudah memahami keseluruhan. Melihat sebentar, menilai dengan cepat. Seolah perjalanan panjang dapat diganti dengan satu asumsi. Padahal ada banyak bagian, tidak pernah ikut disaksikan— bagian saat semuanya ditanggung sendiri; ketika bertahan bukan suatu pilihan, Tetapi keharusan. Tidak ada yang hadir saat itu. Tidak ada yang benar-benar peduli. Kamu lelah Namun, tidak ada tempat untuk mengeluh. Kamu jatuh, tidak ada yang menangkap. Kamu diam karena sudah tidak tahu harus bercerita apa dan kepada siapa. Dan yang paling menyakitkan, kamu tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti semuanya baik-baik saja. Padahal tidak. Tidak ada yang tahu seberapa hancurnya saat itu. Tidak ada yang benar-benar ingin tahu. Lalu ketika situasi sedikit berubah, hid...

Airpun harus paham

Arus terkadang selalu bangga pada derasnya— mengira kuat berarti tanpa jeda, melaju tanpa bertanya, menyebut diri paling setia.   Batu keras tak membuatnya gentar; palung dalam terasa samar. Luas dianggap ukuran benar; deras disangka jalan paling tegar.   Namun air tak pernah benar-benar netral. menyentuh, mengikis, menyerap malam. Tetes kecil tampak biasa Menyembunyikan rasa tak kasatmata.   Tebing runtuh — oleh basah yang tak mengenal penahanan. Sentuhan terus-menerus menjadi tenaga beringas.   Sampai arus berubah keruh, kehilangan diri; deras berlebih menutup jernih.   Akhirnya air paham: Mengalir memerlukan tepi. Kelimpahan tanpa henti menjadikannya kubang menenggelamkan diri sendiri.   ______ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 11 Januari 2026  

Langit Bintang Temaram

Langit bintang temaram, kerlip-kerlip menetes dari kelopak malam; terlalu lama menahan kelam.   Gelap menghampar. Terang berpendar. Keduanya bersekutu dalam cahaya yang cacat.   Aku ada— kehausan dan meminum asin dari sumber yang tak pernah jernih.   Di dalamku, waktu menggerus dirinya sendiri, mencabik detik sampai berdarah.   Perasaanku: samudra menolak pantai, ombaknya berulang, menahan riak sendiri.   Tuhan, izinkan aku murtad sejenak dari diriku sendiri.   Biarkan aku, sejenak menanggalkan kulit dengan luka lebam. Berikan aku kuasa menggantung jiwa ini pada paku langit paling sunyi, lalu menjelma apa saja yang tidak memiliki ingatan.   Biarkan aku menjadi angin lewat tanpa dikenali, selintas cahaya yang tidak mewarisi redup dari kelahirannya, atau bahkan ketiadaan yang tak diwajibkan merasa.   Sebab aku telah terlalu lama menjadi wadah bagi hujan, terlalu setia menadah jatuh, hingga lelah pun kehilangan rasanya.   Lihat— bintang-bintang ...

Mafhum

Pada serambi mazbah berjelaga usia, diriku tertera sebagai ayat jatuh—diredam tilawahnya.   Aku bukan peziarah, bukan siapapun. Aku serpih litani tercelah dan dilucuti. Pada relung napas, mereka mengaku kiblat. Hening: Aminku gugur sebelum sempat.   Wahai perjamuan berupacara mulia, aku serpih di kaki prosesi. Mereka berjubah aku ditahbiskan bagi takungan sepi bernajis.   Diriku—tinta yang diniatkan pudar, terlempar, gelisah, dilenyapkan. Suaraku dikurung, dibungkam.   Aku paradoks bernyawa: luka yang merawat sayatan nya sendiri.   Tiada silsilah, tiada altar— Bak sisa ritus tak rampung. Menggelinding di lorong lengang, Aku hilang sanad, tiada pengukuhan.   Ku haturkan persembahan dari bejana belah, menuang hampa, enggan kosong— kelimpahan yang lapar hati, derma tumbuh dari tiada tara.   Tangan nyaris lenyap tetap memberi, kosong berlutut, memohon untuk diisi penuh.   Malam mengidungkan patah relung hati, pagi mengaminkan tiada saksi mata. Semesta...

Berhenti menambah

Pernahkah kamu berada di sebuah percakapan yang awalnya sederhana—seperti sebuah pertanyaan dasar, misalnya; satu ditambah satu hasilnya dua. Semudah itu.   Kemudian, satu variabel ditambahkan; persamaan masih masuk akal. Namun setelah itu, muncul variabel lain: masing-masing membawa asumsi, masing-masing merasa perlu dilibatkan.   Struktur yang tadinya lurus mulai bercabang. Tanda kurung muncul; syarat tambahan disisipkan. Logika yang awalnya jernih berubah menjadi rangkaian kemungkinan—yang semuanya ingin dipastikan benar.   Lalu kita mulai mengulang langkah, mengganti nilai, menghitung ulang dari awal. Bukan karena persamaannya salah. Kita hanya ragu pada hasil yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.   Sampai disini, persoalan sebenarnya tetap sama; yang bertambah hanyalah kompleksitas. Rumus menjadi panjang: baris demi baris terasa melelahkan, dan jawaban yang dicari justru semakin jauh dari jangkauan.   Lalu muncul pertanyaan yang jarang kita izinkan: Apak...