Kepada Tuan yang Mahasastra
Tuan Aku tahu, engkau Maha Tinggi, duduk di altar bahasa, dengan pena yang lebih tajam daripada lidah siapa pun di ruangan ini. Aku hanyalah pejalan kecil, membawa prosa yang mungkin lusuh, membawa suara yang barangkali sumbang, namun tetap kuletakkan dengan tulus sebagai bagian dari dunia sastra yang sama-sama kita junjung. Namun alangkah agungnya, bila ilmu yang setinggi langit sudi turun, menjadi hujan yang menyejukkan bumi, bukan petir yang membakar ladang hingga bunga-bunga kecil tak lagi berani tumbuh. Sebab bukankah, jika kita belajar dari matahari, meski ia tinggal di langit yang tinggi, ia tak pernah berkata, “lihatlah, aku tinggi,” melainkan memberi cahaya yang membuat bumi hijau dan subur. Lalu, mengapa engkau— yang juga Mahatinggi dan Mahasastra— justru memilih menyilaukan dengan angkuh? Tuan, bukankah setiap pemilik rumah yang menamai pintunya “Puisi” masih boleh menyilakan tamu lain duduk, meski ia hanya membawa prosa compang-camping, ringkih dan lapuk—yang mungkin bagimu...