Postingan

Kepada Tuan yang Mahasastra

Tuan Aku tahu, engkau Maha Tinggi, duduk di altar bahasa, dengan pena yang lebih tajam daripada lidah siapa pun di ruangan ini. Aku hanyalah pejalan kecil, membawa prosa yang mungkin lusuh, membawa suara yang barangkali sumbang, namun tetap kuletakkan dengan tulus sebagai bagian dari dunia sastra yang sama-sama kita junjung. Namun alangkah agungnya, bila ilmu yang setinggi langit sudi turun, menjadi hujan yang menyejukkan bumi, bukan petir yang membakar ladang hingga bunga-bunga kecil tak lagi berani tumbuh. Sebab bukankah, jika kita belajar dari matahari, meski ia tinggal di langit yang tinggi, ia tak pernah berkata, “lihatlah, aku tinggi,” melainkan memberi cahaya yang membuat bumi hijau dan subur. Lalu, mengapa engkau— yang juga Mahatinggi dan Mahasastra— justru memilih menyilaukan dengan angkuh? Tuan, bukankah setiap pemilik rumah yang menamai pintunya “Puisi” masih boleh menyilakan tamu lain duduk, meski ia hanya membawa prosa compang-camping, ringkih dan lapuk—yang mungkin bagimu...

Hasil sebuah renungan

Beginilah adanya hidup: suatu perjalanan yang tak pernah menanyakan kesiapan, namun tetap menuntut langkah dari setiap insan. Aku telah menapaki jalan ini, seringkali dengan hati yang lelah, sering pula dengan tubuh yang nyaris tak berdaya. Namun aku terus berjalan, sebab aku tahu, meski pasrah itu melekat, pasrah bukanlah menyerah. Ia adalah kesadaran yang dalam, bahwa aku hanyalah hamba dengan batas yang jelas, namun dengan kehendak untuk tetap berusaha sampai detak terakhir. Ada masa di mana manusia di sekelilingku menatap dengan penuh kagum. Mereka tersenyum, dan sejenak aku merasa berharga, seperti bunga yang sedang mekar, dihampiri oleh mata yang memuja keindahannya. Dalam tatapan itu, aku menemukan kebahagiaan yang sederhana, seakan-akan segala perjuanganku tidak sia-sia. Namun waktu mengajarkan sebuah kebenaran: kagum mereka tak pernah menjelma abadi, pujian mereka hanyalah singgah sebentar, sebab setiap insan memiliki kehidupannya sendiri yang tak dapat kuseret untuk selalu me...

Sampai jumpa, Bu

Bu… sejak engkau pergi, hidup ini seperti perahu yang kehilangan nakhoda. Aku masih berlayar di laut lepas, ombaknya tinggi, anginnya liar, dan aku berjalan tanpa arah, tanpa suara lembutmu yang dulu jadi petunjuk disetiap perjalananku. Aku sering merasa dunia ini memperlakukanku seperti tanah yang terus diinjak-injak. seperti lilin yang meleleh demi menerangi orang lain, sementara aku sendiri perlahan habis terbakar. Namun aku ingat pesanmu dulu: "Jangan sedih ketika kamu dimanfaatkan, sedihlah ketika kamu tidak bermanfaat lagi."     Kata-katamu itu sering kupegang erat, Bu. Meski jujur, hatiku masih kerap terasa nyeri. Masih ada kecewa yang tak bisa kuceritakan, selain kepada Allah dalam sujudku yang sepi. Aku rindu, Bu… rindu tatapan hingga pelukan mu yang menenangkan, rindu suaramu yang jadi obat untuk segala keresahnku. Kini setiap malam aku duduk dalam hening, menyebut namamu dalam doa, agar Allah melapangkan istirahatmu, menjadikan surga sebagai rumah tenangmu, dan men...

Pasrah | Liris

Aku lelah menggantungkan harap pada manusia yang tak lagi peduli. Berulang kali kutunggu, berulang kali kudoakan, namun yang kembali hanyalah sepi dan diriku yang makin letih. Aku tidak membenci mereka yang lalai pada perannya, aku tidak marah pada jiwa-jiwa yang meninggalkan tanggung jawabnya. Barangkali memang aku yang salah, terlalu banyak berharap pada tangan yang tak pernah terulur. Kini aku belajar berdiri sendiri. Meski langkahku goyah, meski dadaku penuh resah, aku tahu, tak ada yang benar-benar bisa kuandalkan selain diriku sendiri. Ya Allah… betapa sering aku tak berdaya bahkan mengendalikan diriku sendiri. Aku rapuh, aku takut, aku tak tahu ke mana jalan ini bermuara. Namun aku serahkan segalanya kepada-Mu, sebab hanya kepada-Mu aku kembali. Jika hidup ini adalah ujian, maka ajari aku bersabar. Jika luka ini adalah teguran, maka lembutkanlah hatiku untuk menerima. Dan jika semua yang kuinginkan tak pernah Kau izinkan, maka kuatkanlah aku untuk mengikhlaskan. Aku tidak memint...

Menikmati, lalu merelakan | reflektif

Mencintaimu adalah hal paling ikhlas yang pernah aku lakukan. Tanpa menuntut untuk dibalas, tanpa harapan yang membebani, hanya perasaan sederhana yang tumbuh dengan wajar, dan kubiarkan hidup begitu saja meski kelak harus meredup juga. Aku memahami, pada awal pertemuan perasaan mudah sekali hadir. Mungkin karena rasa ingin tahu, mungkin pula karena kebutuhan akan kebersamaan. Namun bagiku, apa pun alasannya tetaplah bagian dari kejujuran hati yang pantas untuk diterima. Maka biarlah kita menjalaninya dengan tenang, seperti ombak yang datang lalu kembali, seperti senja yang perlahan padam namun tetap indah dipandang. Hingga tiba masanya, Mungkin perasaanmu tak lagi sama, dan hatimu menemukan arah yang berbeda. Apabila saat itu tiba, aku ingin benar-benar siap melepaskanmu, tanpa marah ataupun kecewa, agar perpisahan tidak menghapus indahnya pertemuan. Aku berharap, meskipun berakhir, kita masih dapat bertegur sapa, setidaknya sebagai teman yang saling menghargai. Atau, bila itu pun tid...

Tanpa berharap lebih | lirik

Kau datang seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. singkat, menyejukkan, namun tak pernah dapat dipastikan untuk bertahan lama. Indah, iya. Tapi aku tahu, genangnya bisa cepat surut, sebelum sempat meresap ke dalam tanah. Begitulah aku memandangmu: pertemuan yang manis, tapi harus kutahan agar tak tumbuh terlalu dalam. Sebab rasa yang berakar terburu-buru, sering kali patah sebelum sempat menguat. Aku memilih menjaga jarak dengan hatiku, bukan karena tak terpesona, melainkan karena aku sadar— kau tak sepenuhnya menaruh hatimu padaku. Dan mencintai yang tidak utuh, adalah cara tercepat untuk hancur seluruhnya. Namun, ada saat ketika logikaku runtuh, dan aku ingin percaya bahwa aku cukup bagimu. Bahwa aku bukan sekadar singgah, bukan sekadar hadir sementara dalam cerita panjangmu. Di titik itu, perasaanku memuncak: aku mencintaimu dengan hati-hati, sambil menyiapkan ruang untuk melepaskan. Karena aku tahu, menyelamatkan diri lebih penting daripada memaksa sesuatu yang tak pernah b...

Sebatangkara di Negeri Penuh Tagihan

Aku ini sebatang kara seperti pohon tua yang masih dipaksa berbuah meski akarnya sudah nyaris busuk, meski tanah di sekelilingnya tandus dan kering. Negeri ini katanya ibu pertiwi, tapi entah mengapa tangannya lebih sering merogoh ketimbang merangkul. Rakyat sudah melarat, namun tetap ditanya: "Mana pajakmu? Mana setormu?" Ah, betapa getirnya menjadi anak bangsa yang hanya bisa menanam keringat, tapi hasil panennya dibawa angin birokrasi ke ladang-ladang yang tak pernah aku pijaki.  Katanya demi merah putih, katanya demi tegaknya negara. Tapi kadang terasa aku hanya sehelai kain kumal yang dipaksa menutup lubang kapal agar tak tenggelam lebih cepat. Aku cinta tanah air ini, tapi apakah tanah air mencintaiku? Ataukah aku hanya penumpang gelap yang tiap langkahnya dicatat, tiap napasnya dipajaki, hingga hidup ini terasa lebih seperti hutang daripada rumah sendiri.  Namun, meski aku sebatang kara, meski pundakku dipaksa memanggul beban yang lebih berat dari nasibku, aku masih me...