Postingan

Peri yang tak pernah ada

Orang-orang kerap memahat bayangan tentangku, seakan aku peri yang turun dari kisah fiksi, sayapku berkibar dalam cahaya tak kasat mata, suara nafasku dianggap mantra, dan langkahku dikira denting ajaib yang akan memecahkan harmoni dunia mereka. Lucu sekali. Aku bahkan sering tersandung batu kecil di jalan, membiarkan hujan menempelkan lumpur di tubuhku, dan duduk sendiri dengan pikiran yang kusut— di mana letaknya sayap emas itu? Di mana letaknya takhta yang mereka takutkan akan runtuh bila mereka mendekat? Aku hanya manusia biasa, yang ingin menukar sunyi dengan obrolan sederhana, yang butuh wajah lain untuk menjadi cermin, yang tak malu mengakui: aku rapuh, aku lelah, aku bukan makhluk cahaya yang mereka karang-karang. Namun prasangka itu terlalu pandai menulis naskah. Mereka lebih percaya pada dongeng daripada pada nadaku yang jujur. Mereka mendramatisir senyumku seakan menyimpan rahasia kuasa. Mereka menafsirkan diamku seolah kesombongan yang disengaja. Ah, betapa satirnya hidup i...

Tikus di lorong belakang

Seekor tikus gemar berbisik di lorong belakang, Riuh di tumpukan sampah, menyusun cerita lalu menjualnya. Menyindir dengan taring seolah kata-katanya bisa menundukkan langit, padahal hanya meneteskan ludah pahit yang menguap sebelum menyentuh tanah. Lucu sekali, yang menuduhku murah adalah mereka yang menjajakan harga dirinya sendiri. Apakah aku harus menawar? Tidak. Aku hanya penonton yang tahu kualitas kain dari benangnya. Kau pikir dengan bisikanmu, orang-orang akan buta dan tuli? Sayang sekali, mereka dewasa, mereka tahu bedanya emas dan kawat. Fitnahmu berisik, nyolot, Tak berbobot— seperti tong kosong dipukul keras agar terdengar nyaring padahal hampa. Aku muak? Iya. Kesal? Tentu. Tapi kebijaksanaan menuntunku untuk tidak berenang di kolam keruh yang kau isi dengan lumpur. Aku tidak ingin tanganku kotor hanya untuk membalas najismu. Lidahmu panjang, Namun tali kebenaran lebih panjang lagi. Dan percayalah— tak ada karung yang bisa menutup busuk bangkai selamanya. Kebenaran akan ke...

PENERBANG SUNYI

Luka? Oh iya, karena aku lupa rasanya. Di kepala, punda, dada, perut, tangan, kakiku...dan...ah iya luka itu sudah membatu Ya, sayapku telah rapuh Tidak indah dan semegah dulu Paruhku patah, tidak kokoh lagi, cakarku tumpul, tidak tajam lagi Dadaku koyak, tidak gagah lagi Masa itu telah terlewat jauh Dulu, mengepak bermandikan cahaya Kini, aku ingin menjauhi sinar menyilaukan mata Aku hanya rindu terlelap dalam dada yang telah tamat menunggu sempurna Gemerisik dedaunan diterpa semilir, menyanyikan lagi suara yang tak mungkin lagi aku mendekapnya; "Elang ibu harus terbang jauh ke entah, carilah pelukan yg mampu menyatukan air segara dan api bara, memadukan salju dengan lahar lava. Pelukan ibu, tak lagi kau butuhkan. Namun jangan tertipu, doa ibu akan menuntunmu pada pelukan paling lembut di semesta!" Sejak itu aku terbang sejauh sayapku bisa menuju entah. Pada lelah aku istirah. Aku tak sadar disana ada cahaya bias yang gemerlap. Namun melepas artinya pernah mendekap. Tak mung...

BAGEA (Halaqoh Puisi Bode Riswandi)

Sajak memanggilku, aku berpaling malu Puisi memanggil lagi seraya mengangguk Aku masih ragu namun senyuman, kedua tangan dengan jemari menegaskan Untuk memelukku dengan segenap kehangatan "Segala kekufuranku ku kau maafkan?" Tanyaku "Bagea!" Tegasnya "Aku tak percaya kau futur dari wajah kontemplasi? Diksinya tak hilang dari benak dan bibirmu; di mimbar, panggung, meja diskusi, edukasi dan ruang transaksi yang katamu ketulusan dikebiri Memang pernah terlihat kau kelimpungan; dimana  koordinat kau tinggalkan hati Kau linglung dan terus mencari hingga di negeri-negeri yang kau datangi; semasa kecilmu, itu hanya dongeng dan mimpi Bagea! Tak usah bingung lagi Hari ini akan ku tunjukkan, bahwa kau rindu pada ruhku". Sambung sajak lagi Dengan gemetar ku hisap sebatang sigaret yang disodorkan Bode Riswandi di seberang meja menyeruput nikmat segelas kopi, lalu berucap seakan tahu kecamuk di dadaku; "jalan puisi selalu penuh misteri" Maka di panggung penu...

ADA TAK ADA | Karya: My Kembara

"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni"*. Sergah sajak Sapardi yang menggema di semesta raya, menggaung di dunia maya, terpahat di dada bertaman cinta Ada Tak ada yang lebih bijak dari kami, yang mereka datangi dengan senyuman termanis Lalu kami sambut dengan kedua tangan terbuka penuh kehangatan Kepercayaan sepenuh harapan Bulan Juli letupan-letupan paska perang urat syaraf, perang narasi, perang kepentingan masih terdengar lagi Tak ada yang lebih arif dari kami yang setiap 5 tahun sekali mereka kelabuhi dan kami tetap manut dengan kepala tertunduk, bahkan tubuh terbungkuk Siapa yang kalian wakili?  Mengapa kalian justru sangat berbeda dengan kami? Jauh tanah ke langit? Kalian datang meminta seluruh hati, namun di kursi dan gedung itu, tak ada sedikitpun tentang kami yang kalian wakili?  Kalian memperjuangkan naik tunjangan dan gaji kalian sendiri, sembari menjilat kartel-kartel tinggi dan oligarki. Kalian menari lalu memarahi dan menyumpahssrapahi kami layaknya zom...

Litani Ironi Zaman

Kita hidup di abad tercepat, namun jiwa kita terseret, seperti sandal jepit usang di banjir jalanan kota. Jam digital berlari seperti kuda liar, sementara dada kita sesak seperti penumpang terakhir yang selamanya ditinggal kereta. Kebebasan katanya milik semua, tapi lidah kita gemetar seperti burung di sangkar kaca, takut patah sayap karena dipandang algoritma. Kedekatan jadi sandiwara murahan: tangan tak lagi menggenggam, hanya menari di atas layar, dan senyum palsu terpajang seperti topeng badut yang dipaksa tertawa di pasar malam. Pelukan terganti stiker, air mata diganti filter, dan tragedi disulap jadi “konten.” Pengetahuan jatuh dari langit seperti meteor bercahaya, namun otak kita cuma ember bocor, membiarkan derasnya api menghanguskan isi kepala hingga tinggal asap trivia yang tak pernah menyelamatkan siapa pun. Kita bekerja, bekerja, bekerja— seperti tikus di roda besi, berputar gagah menuju surga neon yang dijanjikan papan iklan. Namun yang kita temui hanyalah punggung retak,...

Opera Boneka Kayu

Di panggung reyot papan usang, boneka kayu berdandan dengan senyum kaku. Giginya terukir dari karat dingin. Tali-tali menggantung dari langit-langit, menggoyangkan tangan dan kaki kaku. Setiap tarikan benang mengusir lapar, telanjang— perut kayunya kenyang oleh pujian. Kardus ia kenakan sebagai mahkota, Serbuk halus ia sebut perhiasan. Orkestra menabuh timpani sumbang, mengiringi lakon keagungan palsu. Penonton terpesona menganggap lakon murahan sebagai dogma tak sadar senyum itu terpaksa Langit ikut tertawa getir, melihat lapar dikemas jadi puasa, sepi dijual sebagai kebijaksanaan, luka dipoles jadi kesucian. Ah, sungguh drama murahan, Kesunyian dijadikan tontonan, dan pengorbanan dipamerkan tanpa pernah ditanyakan. Akhirnya, tirai runtuh dengan dentum murahan. Boneka kayu tetap diam, talinya menertawakan martabat. Kursi-kursi kosong berdiri pongah, Sambil bertepuk tangan Begitulah teater palsu diwariskan sampai kayu lapuk sendiri dan suara “minta” pun dianggap dosa. _________________...