Peri yang tak pernah ada
Orang-orang kerap memahat bayangan tentangku, seakan aku peri yang turun dari kisah fiksi, sayapku berkibar dalam cahaya tak kasat mata, suara nafasku dianggap mantra, dan langkahku dikira denting ajaib yang akan memecahkan harmoni dunia mereka. Lucu sekali. Aku bahkan sering tersandung batu kecil di jalan, membiarkan hujan menempelkan lumpur di tubuhku, dan duduk sendiri dengan pikiran yang kusut— di mana letaknya sayap emas itu? Di mana letaknya takhta yang mereka takutkan akan runtuh bila mereka mendekat? Aku hanya manusia biasa, yang ingin menukar sunyi dengan obrolan sederhana, yang butuh wajah lain untuk menjadi cermin, yang tak malu mengakui: aku rapuh, aku lelah, aku bukan makhluk cahaya yang mereka karang-karang. Namun prasangka itu terlalu pandai menulis naskah. Mereka lebih percaya pada dongeng daripada pada nadaku yang jujur. Mereka mendramatisir senyumku seakan menyimpan rahasia kuasa. Mereka menafsirkan diamku seolah kesombongan yang disengaja. Ah, betapa satirnya hidup i...