Postingan

Yang miring selalu tergiring

Ada yang menyebut itu strategi; padahal, lebih tepat disebut jalan pintas bagi mereka yang alergi pada kemampuan.   Ketika daya saing tidak cukup kuat berdiri sendiri, pengaruh dijadikan tongkat. Opini digiring, reputasi dipelintir, dan nama baik diperlakukan seperti segenggam koin receh yang dilempar; Berantakan, Berisik.   Cara ini memang efisien: tidak perlu belajar lebih jauh, tidak perlu diuji secara terbuka. Cukup rajin bercerita, dan berharap orang lain cacat logika.   Persaingan sehat menuntut keberanian untuk kalah dan kapasitas untuk menang. Menggiring kebencian justru menyingkap kepanikan menghadapi perbandingan yang jujur. Ketika kemampuan ragu tampil, cerita naik panggung menggantikan prestasi.   Namun cerita tidak hidup sendirian; cerita memerlukan penonton—dan sialnya, selalu ada yang bersedia. Mereka yang menelan tudingan tanpa klarifikasi, yang mengulang kabar tanpa koreksi; sering merasa netral, padahal sedang menjadi perpanjangan tangan kebodohan. ...

Jujurlah

Bertuturlah lurus; biarkan mengalir, seperti sungai yang tak mengkhianati hulu. Bila ada cela yang muncul di jalan, tataplah sebagai cermin— bukan ancaman yang menggangu.   Sering, bisu dijahit menjadi selimut, menutupi apa yang harusnya terucap. Salah disimpan sebagai simpul rapi, namun kebenaran tidak akan memudar oleh sunyi.   Suara jujur adalah bintang tetap, diam, setia pada porosnya. Tidak menelanjangi luka. Seperti kompas tua, tak tergores usia, Selalu mengetahui arah lekukan keausan. Menuntun langkah yang nyaris lupa, mengingatkan pada arti pulang— ke tempat di mana hati bisa kembali lega. ______ `Karya: Sarah Bneiismael` Bondowoso, 29 Januari 2026    

Diri pasti berdiri lagi

Pada halaman kronik janggal lara, diri terbawa tak punya harga; hati mewadah tak pernah menarik tira—   Jika air mengalir, tak henti riaknya jika rimbun dedaun, tak pudar bayangnya bila diri diperalat, hilang mahkota dirinya.   Ketika waktu menyapa dahan dingin, kuasa diri semakin terasing. Tak ada satupun selain diri— bertumbuh meski akar sudah pincang lirih.   Kau tau? Rasanya seperti kulit terkoyak seratus kali lipat, dengan seribu panggilan membuatku tuli.   Direndahkan seperti rerumputan, dipaksa akrab dengan lumpuran; aku diperalat, diseret dari kesadaran. Dunia bersekongkol dengan lara hati, menguji diri dengan patah-patah. Hingga banjir air sedih mengucuri wajahku.   Sakit datang angin sunyi mengikuti getah luka yang perlahan mengalir. Aku— rumput liar. Rapuh, terhempas, terlunta sendiri.   Mengubangkan harap bersama susut rerumputan yang tak lagi mau menampakkan diri. Tarinjak, hilang— dunia berbalik muka.   Namun sadar: Helai-helai pasti tumb...

Amplop Gemurra

Jam patah menyimpan naskah lama, Aksara berjalan tanpa gemurra. Aku membaca hidup sebagai gelar, padahal sunyi telah lebih dahulu bicara.   Pagi kubeli dengan sisa terang, malam kubawa dalam genggaman. Langkah bermula dari yang tampak terpisah, menuju arah yang menolak pemahaman.   Daun jatuh perlahan ke tanah basah, air diam memeluk bebatuan. Sampiran luruh, isi kehilangan bingkai, makna bernapas tanpa penjelasan.   Angka dihitung lalu dilepas, dua dan satu bertukar rupa. Kupikir jarak adalah batas, ternyata batas hanya cara pikiran bekerja.   Pasir menulis doa tanpa tinta, ombak datang menghapusnya pelan. Yang dicari lenyap dari cerita, sebab pencarian pun mulai dilupakan.   Aku menyebut “aku” dengan gemetar Dari penghujung, gema menjawab tanpa wajah. Yang memanggil dan yang mendengar, larut menjadi satu arah.   Burung terbang tanpa peta langit, namun tiba tanpa pernah sesat. Begitu pula langkah menyempit, saat tujuan tak lagi disemat.   Sampiran sur...

Musim datang, daun akan berganti

Ku sampaikan Kepada-Mu— Dari sehelai hijau yang keriput dan kering, di atas bumi yang telah lama merenung.   Cintaku bertumbuh di ranting-Mu Bersama janji tertulis pada serat lurus: "Hijau kita tetap walau musim berganti terus." Kemudian terlihat— lembarku menguning perlahan, kecoklatan seperti tanah.   Kau cari yang lain— Menumbuhkan tunas dengan hijau lebih muda.   Serat rapuh dan halus, Halus— Menari digiring angin dingin yang sedang bersiul. "Ini takdir," kau ucapkan lembut— "Alam yang bergerak, bukan pilihan-Mu yang menjauh."   Sengaja kau patahkan ranting tempatku menggantung padamu. Helai demi helai gugur— Tertusuk.   Kau abaikan sambil tersenyum Kau datang dengan wajah yang sama, seolah masih mengenalku yang sudah tiada nilainya. "Musim telah tiba," kau katakan dengan nada yang tenang— Perhatian-Mu untuk tunas baru yang tumbuh. Aku, tergeletak di tanah. Setiap helai yang pernah setia pada ranting-Mu Sepenuh hati—   Mungkin begitulah cinta...

Kedalamanku

Apa yang kau tanam di relung diriku hingga kau tahu tanah mana yang paling mudah runtuh? Aku merasa disentuh oleh keakraban— sementara pengertian berjalan tertinggal, jatuh satu demi satu ke dasar ingatan.   Kedekatan membuatmu hafal setiap hembusanku; Mulai dari Jam yang berdetak di dinding batin, hingga cara suaraku berderit saat berpura-pura kuat. Lukamu memilih tinggal— mendangkalkan danau yang dulu memantulkan langit biru.   Cintamu pernah menjadi air jernih yang kuteguk tanpa memprediksi dampaknya. hingga kehilangan tumbuh sebagai musim panjang. Hari-hari berlumut di sudut, udara berbau lembap dan penantian panjang tak berujung, jamur menua di ronggaku tanpa pernah diperdulikan kedalamannya.   Kau, orang terdekat paling tahu cara memanggil pulang tanpa bersuara, juga cara pergi dengan lembut— meninggalkan pintu tetap terbuka. Memperhatikan kelemahanku seperti peta usang: robek, tapi masih akurat.   Aku berada di tepi kenangan, airnya memanggil namaku dengan sua...

Neraca tua (tentang menimbang waktu, penantian, dan memilih ikhlas sebagai jalan pulang)

Karya: `Sarah Bneiismael` Bondowoso, 20 Januari 2026. Sepertiga malam. Rumput liar bangun lebih dulu dariku, menyebut dirimu dengan bisikan paling lirih— agar pagi tak cemburu pada sisa getar yang masih tinggal di bibirku.   Aroma berjalan sendiri, menyusuri hari. Ia tahu rindu perlu disembunyikan; namun salah memilih arah— namamu dibawanya masuk Pada relung dalam, berdenyut terlalu cepat.   Angin berhenti di hadapanku. Ia menatap lama, membaca sesuatu yang tak pernah kuucapkan. Lalu ia menyentuh waktu: jam-jam terguncang, langit memejamkan mata, dan laut di kepalaku kehilangan ingatan tentang gelombang.   Diam. Sedalam batu yang lama tinggal di kegelapan.   Aku duduk di tepi hari yang mulai melengkung. Sepi datang membawa neraca tua— di satu sisi, detik-detik yang kuhabiskan menunggu; di sisi lain, langkah-langkah yang tak pernah jadi.   Menakarku seperti menimbang biji-biji waktu yang siap dikubur dalam tanah.   Padang membentang tanpa ujung, bertanya den...