Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Hari ini saja (Revisi)

Kutemui fakta Bahwa hidup tidak selalu menuntut kemenangan. Kadang hanya meminta napas yang cukup panjang untuk menyeberangi hari. Kebutuhan layaknya deret di papan kotor. sementara pendapatan datang sebagai kemungkinan. Tak pasti. Dan aku berada di sebuah tubuh yang berusaha tetap waras. Mengira kuat adalah tak tergoyahkan. Lalu, Aku memahami. Kuat berarti; tetap melangkah meskipun sambil gemetar. Berjalan dengan pikiran riuh, menawar harapan agar tidak membebani diri. Ada hari-hari ketika doa kehilangan kata, menyusut menjadi satu permintaan: "Hari ini saja, cukup."  Mari kesampingkan harapan. Sudahi imajinasi tentang masa depan yang megah; Satu hari tanpa runtuh sudah terasa indah. Bertahan hidup ternyata bukan soal menaklukkan apa pun. Lebih mirip keputusan harian tentang apa yang masih layak diutamakan: makan seadanya, tidur seperlunya, dan hati yang tak terus dipaksa merasa bersalah. Jika hidup adalah perjalanan batin, barangkali aku sedang berada di bagian yang paling ...

Berhenti Menjadi Korban (Revisi)

Ada saat ketika aku mengira setiap yang kupeluk akan abadi. Dunia: Rupanya, selalu menyiapkan langkah di balik gemerisik rahasia yang belum pernah menjangkau tepi pengetahuanku. Di telapak tangan ada garis-garis yang semakin dalam Sebab aku menahan sesuatu yang sejak lama memohon untuk dibiarkan luruh. Malam datang dengan bau teduh, menyampaikan bahwa kehilangan tak pernah benar-benar merampas apa pun, kecuali memindahkan beban ke tempat yang lebih siap menampungnya. Perlahan, harapku mencair seperti embun berserah diri pada matahari; penyesalan pun beterbangan, menjadi serpih angin; tak memerlukan petunjuk. Aku berhenti menjadikan diri sebagai korban dari apa yang sudah lewat; setiap detik yang jatuh menghapus bayangan-bayangan yang dulu kukira bagian hidup. Dan ketika genggaman itu akhirnya kulepas, ruang kosong yang tertinggal tidak menyerangku lagi; Justru membuka sejenis jalan pulang— tempat seluruh beban menjadi ringan, menjadi jernih. Menjadi manusia yang tak lagi takut pada ben...

Satu kalimat lalu tamat

Pernahkah kamu merasa, Kemudahan yang terlihat hari ini dipakai untuk menjelaskan seluruh hidupmu?   Aku pernah. Dan mungkin, kamu juga. Memang, seironis itu cara hidup berjalan. Sebagian orang hanya butuh satu potongan, lalu merasa sudah memahami keseluruhan. Melihat sebentar, menilai dengan cepat. Seolah perjalanan panjang dapat diganti dengan satu asumsi. Padahal ada banyak bagian, tidak pernah ikut disaksikan— bagian saat semuanya ditanggung sendiri; ketika bertahan bukan suatu pilihan, Tetapi keharusan. Tidak ada yang hadir saat itu. Tidak ada yang benar-benar peduli. Kamu lelah Namun, tidak ada tempat untuk mengeluh. Kamu jatuh, tidak ada yang menangkap. Kamu diam karena sudah tidak tahu harus bercerita apa dan kepada siapa. Dan yang paling menyakitkan, kamu tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti semuanya baik-baik saja. Padahal tidak. Tidak ada yang tahu seberapa hancurnya saat itu. Tidak ada yang benar-benar ingin tahu. Lalu ketika situasi sedikit berubah, hid...

Airpun harus paham

Arus terkadang selalu bangga pada derasnya— mengira kuat berarti tanpa jeda, melaju tanpa bertanya, menyebut diri paling setia.   Batu keras tak membuatnya gentar; palung dalam terasa samar. Luas dianggap ukuran benar; deras disangka jalan paling tegar.   Namun air tak pernah benar-benar netral. menyentuh, mengikis, menyerap malam. Tetes kecil tampak biasa Menyembunyikan rasa tak kasatmata.   Tebing runtuh — oleh basah yang tak mengenal penahanan. Sentuhan terus-menerus menjadi tenaga beringas.   Sampai arus berubah keruh, kehilangan diri; deras berlebih menutup jernih.   Akhirnya air paham: Mengalir memerlukan tepi. Kelimpahan tanpa henti menjadikannya kubang menenggelamkan diri sendiri.   ______ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 11 Januari 2026  

Langit Bintang Temaram

Langit bintang temaram, kerlip-kerlip menetes dari kelopak malam; terlalu lama menahan kelam.   Gelap menghampar. Terang berpendar. Keduanya bersekutu dalam cahaya yang cacat.   Aku ada— kehausan dan meminum asin dari sumber yang tak pernah jernih.   Di dalamku, waktu menggerus dirinya sendiri, mencabik detik sampai berdarah.   Perasaanku: samudra menolak pantai, ombaknya berulang, menahan riak sendiri.   Tuhan, izinkan aku murtad sejenak dari diriku sendiri.   Biarkan aku, sejenak menanggalkan kulit dengan luka lebam. Berikan aku kuasa menggantung jiwa ini pada paku langit paling sunyi, lalu menjelma apa saja yang tidak memiliki ingatan.   Biarkan aku menjadi angin lewat tanpa dikenali, selintas cahaya yang tidak mewarisi redup dari kelahirannya, atau bahkan ketiadaan yang tak diwajibkan merasa.   Sebab aku telah terlalu lama menjadi wadah bagi hujan, terlalu setia menadah jatuh, hingga lelah pun kehilangan rasanya.   Lihat— bintang-bintang ...

Mafhum

Pada serambi mazbah berjelaga usia, diriku tertera sebagai ayat jatuh—diredam tilawahnya.   Aku bukan peziarah, bukan siapapun. Aku serpih litani tercelah dan dilucuti. Pada relung napas, mereka mengaku kiblat. Hening: Aminku gugur sebelum sempat.   Wahai perjamuan berupacara mulia, aku serpih di kaki prosesi. Mereka berjubah aku ditahbiskan bagi takungan sepi bernajis.   Diriku—tinta yang diniatkan pudar, terlempar, gelisah, dilenyapkan. Suaraku dikurung, dibungkam.   Aku paradoks bernyawa: luka yang merawat sayatan nya sendiri.   Tiada silsilah, tiada altar— Bak sisa ritus tak rampung. Menggelinding di lorong lengang, Aku hilang sanad, tiada pengukuhan.   Ku haturkan persembahan dari bejana belah, menuang hampa, enggan kosong— kelimpahan yang lapar hati, derma tumbuh dari tiada tara.   Tangan nyaris lenyap tetap memberi, kosong berlutut, memohon untuk diisi penuh.   Malam mengidungkan patah relung hati, pagi mengaminkan tiada saksi mata. Semesta...

Berhenti menambah

Pernahkah kamu berada di sebuah percakapan yang awalnya sederhana—seperti sebuah pertanyaan dasar, misalnya; satu ditambah satu hasilnya dua. Semudah itu.   Kemudian, satu variabel ditambahkan; persamaan masih masuk akal. Namun setelah itu, muncul variabel lain: masing-masing membawa asumsi, masing-masing merasa perlu dilibatkan.   Struktur yang tadinya lurus mulai bercabang. Tanda kurung muncul; syarat tambahan disisipkan. Logika yang awalnya jernih berubah menjadi rangkaian kemungkinan—yang semuanya ingin dipastikan benar.   Lalu kita mulai mengulang langkah, mengganti nilai, menghitung ulang dari awal. Bukan karena persamaannya salah. Kita hanya ragu pada hasil yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.   Sampai disini, persoalan sebenarnya tetap sama; yang bertambah hanyalah kompleksitas. Rumus menjadi panjang: baris demi baris terasa melelahkan, dan jawaban yang dicari justru semakin jauh dari jangkauan.   Lalu muncul pertanyaan yang jarang kita izinkan: Apak...

Perjalanan ini akan selalu memiliki kemungkinan untuk bergerak ke arah yang lebih luas

Beberapa waktu terakhir, kehidupan terasa dipenuhi kegelisahan yang menyelinap di sela-sela hari yang tampak biasa. Pagi dibuka oleh kabar tentang harga yang semakin berat dipikul; siang dihabiskan untuk menunaikan kewajiban yang tak kenal lelah; malam sering berakhir di hadapan angka-angka yang menunggu keputusan. Banyak orang tetap menjalani rutinitas dengan tatapan yang tenang, sementara di dalam batin tersimpan pertanyaan yang belum menemukan tempat berlabuh.   Di banyak rumah, meja makan telah diam-diam berubah menjadi ruang perundingan antara kebutuhan dan kemampuan. Angka-angka duduk di sana dengan sikap yang tegas, menunggu untuk ditata dengan kesabaran agar hari esok tetap memiliki makna. Di dalam kepala, pikiran berjaga seperti penjaga malam—menyisir setiap kemungkinan, merapikan setiap kekhawatiran, menjaga harapan agar tidak tercerai oleh derasnya arus keadaan.   Keresahan kini semakin akrab dalam perjalanan hidup. Perasaan tertinggal kadang muncul tiba-tiba saat m...

Mari menumbuh saja

Berhenti meretih dahan teduh; biarkan helai-helai hijau mengaji desirnya sendiri pada bahu bayu— setiap daun tahu cara bersua tanpa gaduh.   Kau tau? Rimba menyimpan petuah purba. Batang terpancang tanpa bersabda, akar menjalar, senyap. Namun kini, musim lain tumbuh— Mulut-mulut daun mabuk di pucuk  puja dipuja, puji memuji, bunyi memburu bunyi, hingga sunyi tak lagi dikenali. Meski demikian,  Setiap getah harus terus menemukan jalan keluar sebab hidup tak tumbuh sebab petatah-petitih.   Lihatlah rimba dengan jernih— tak satu pun pohon tumbuh Kecuali telah di uji. Mereka tumbuh, sebab akarnya setia menggali bumi sekalipun temaram.   Maka mari menumbuh saja— lirih seperti akar purba dalam gulita cahaya: gelap menjernihkan terang mengasingkan Tanpa merenggut dahan sesama; Tak perlu meminjam riuh dunia.   Pohon yang sungguh hidup tak berseru pada langit bisu. _____ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 13 Maret 2026

Tidak Semuanya Terlihat

  Tidak ada hidup yang sempurna. Maka, jangan iri pada hidup siapa pun.   Yang tampak tenang di permukaan— barangkali seperti danau, telah lama menelan badai.   Airnya jernih. Namun di dasarnya, tersimpan batu-batu yang jatuh dari langit kemalangan.   Hidup saya pun pernah riuh oleh pertanyaan. Pikiran saling bertabrakan, seperti angin tersesat di lorong sempit.   Perasaan datang silih berganti: ada yang mengetuk sopan, ada yang masuk seperti hujan menerobos pintu.   Ada luka yang tak pernah berbicara. Ada begitu banyak perasaan dibiarkan hanya duduk diam di sudut waktu, tanpa pembelaan.   Saya berjalan melewatinya. Sebab diam kadang lebih cukup daripada banyak penjelasan.   Lama-lama, riuh itu mereda. Hati mulai mengerti: tidak semua pertarungan perlu dimenangkan. Ada yang cukup dilepaskan.   Dari situ, ketenangan muncul— seperti rumput kecil yang berani tumbuh dari retakan batu.   Jika suatu hari kamu melihat seseorang bahagia, jangan ...

Tetap melangkah, jangan menyerah

Suatu waktu muncul pertanyaan di dalam diri: "Apa yang sebenarnya tidak bisa kulakukan dalam hidup ini?"   Pertanyaan itu membuat pandangan berbalik ke belakang. Jalan yang telah dilewati ternyata panjang. Banyak beban pernah datang, banyak persoalan pernah singgah. Sebagian terasa berat saat dijalani, namun waktu membawanya pergi seperti musim yang silih berganti.   Langkah demi langkah terbentuk tanpa banyak sandaran. Masalah datang, dihadapi. Kesulitan muncul, dilalui. Semua berjalan begitu saja, seperti hari-hari yang tampak biasa namun menyimpan banyak pergulatan.   Tanpa banyak disadari, perjalanan perlahan membentuk sesuatu. Seperti air yang terus menyentuh batu hingga mengubah bentuknya, pengalaman menegaskan ketahanan. Seperti pohon yang sering disentuh angin, akar kian menancap dalam pada tanah.   Lalu aku menyadari. Banyak hal yang dahulu terasa sulit ternyata dapat dilewati.   Barangkali kamu juga sedang berada di jalan yang serupa—menjalani hari den...

PATINA

Cahaya secuil menyulut musim misuh; senyum diseret sendu sabda semu.   Saat serbuk karat menggerogoti: hening hiruk, dingin membara, tenang tegang.   Lidah: palu gelisah— riwayat dipalu menyatu pelat percakapan; paku demi paku dihantam: dentum dendam.   Rapuh menginjak rapuh— ritus ringkih riuh; pikiran cacat, akal sehat luruh.   Palu berayun, pelat tunduk— telinga dungu menadah suara disangka petuah.   Ketahuilah: logam tua memelihara hukum kekal— paku tak pernah menegakkan baja, palu tak pernah memuliakan besi.   Sesungguhnya karat menyimpan rahasia getir: Jangan menyangka badai mampu mematahkan besi kecuali telah terlapis oleh serpih halus yang disangka emas.   Begitulah patina.      _________ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 6 Maret 2026

Enggan

Terkadang gunung begitu sombong, menyuarakan diri kokoh— namun menolak hujan yang sabar menitiskan keluh di pundaknya.   Begitu pula api: tak peduli siapa yang memikul kayu, tak peduli siapa yang hangus.   Hanya tahu berkobar, lalu pergi ketika bara mulai perih.   Betapa ganjil, betapa janggal: bayang-bayang meratap, meminta cahaya mulia pada matahari yang telah menggerakkan siang tanpa ufuk untuk menunduk, tanpa ruang untuk letih.   Di bawahnya— akar-akar bersujud dalam tanah, lirih namun gagah.   Memeluk bumi yang tengah menderita, menahan longsor. Nyaris menyeret segala kesetiaan.   Begitulah hidup diajarkan bertahan:   Menyapu halaman tak pernah setara dengan menahan musim runtuh di atas kepala sendiri; tak pernah sebanding dengan memikul batu kehidupan.   Lihatlah seorang nakhoda di dermaga!   Tetap terhormat, namanya harum di antara tepuk tangan, namun kakinya tak pernah disentuh ombak yang sungguh-sungguh menguji keberanian.   Gel...

Pindang

Di depan Api membakar ketakutan; di belakang, pisau telah mengoyak sisik kenangan. Sekujur tubuh lelah terbaring diatas uap air mendidih, ikan tak lagi memiliki lautan. Asin bumbu meresap sampai daging terdalam, air mata berubah jadi kuah pekat; Saat aroma sedap mengepul ke udara, Artinya; nasib telah selesai ditanak. ______ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 9 Februari 2026