Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Pasang surut laut

Cinta seperti pasang laut, patuh pada tarikan bulan. Tak pernah menyentuh langit, namun dasar di relung hatiku bergeser karenanya. kusaksikan bagaimana sesuatu tak terlihat mampu mengubah arus, memindahkan karang, menata ulang kedalaman.   Rasa kerap menjadi kilat— cepat, pekat, lewat. Ombak berkejaran, buih berkilauan; dasar menyimpan desakan.   Kau tau? Tenang menyimpan tegang. Hening mengandung gelombang. Terang bersanding bayang.   Meski arus tak berisik, dia tetap mengiris. Bergerak, menggeser haluan. Butir demi butir cadas berpindah; palung meluas, samudra bernafas.   Meski begitu  Ombak riuh lekas luruh. Laut bergetar. Yang singgah beringsut; yang tenggelam mengendap didalam.   Di antara pasang dan surut Laut boleh kalut; dasarku tetap terpaut. ___________ Karya: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 19 Februari 2026

Lebih dari segala warna

Perasaanku padamu seperti cahaya yang tidak menyilaukan—cukup terang untuk terlihat, cukup lembut untuk tidak memaksa. Aku menyukaimu dengan kesadaran utuh, tanpa hasrat menjadikannya piala atau bukti kemenangan.   Kau merespons dengan indah, seperti pelangi yang melengkung selepas hujan. Warnanya memikat, sapamu hangat. Namun, keindahan itu sering hanya singgah. Pesan datang seperlunya, perhatian berpendar sesekali—cukup menumbuhkan harap, tidak cukup menjadi arah.   Ragu adalah musim yang wajar. Tetapi, musim yang terlalu lama tinggal pasti berubah menjadi penundaan. Di sanalah kesadaraku menegakkan diri, membedakan pesona yang memikat dan keputusan menetap.   Sekalipun aku mencintaimu, keberpihakanku tetap pada diriku sendiri. Cinta tidak boleh mengecilkan martabat, tidak pula layak ditukar nilai dengan harap. Aku bukan ruang kosong untuk diwarnai sesuka hati.   Jangan sepelekan keteguhan ini. Dan jangan ubah hitamku dengan basa-basi pelangimu.   Aku tidak ak...

Pohon

Jangan mencuci diri di sungai yang sejak awal mengalir dari selokan.   Airnya tak pernah berniat jernih— Selalu memantulkan wajah wajah dungu. Terlihat penting di permukaan keruh.   Ketahuilah! Mereka yang mencintaimu tidak melihat angin; mereka paham bahwa kau adalah pohon. Paham bagaimana akarmu Mengakrabi tanah. Melihat bagaimana kau tetap tegak, meski musim mencoba mematahkan. Integritas layaknya matahari Tak perlu memvalidasi dirinya terang, setiap pagi pasti kembali, tanpa perlu membela diri pada gelap malam.   Dan mereka yang memilih ragu Sama halnya dengan jendela tertutup: seberkas cahaya pun akan dianggap gangguan.   Tidak semua badai harus kau debat. Beberapa angin hanya ingin Memastikan kau kehilangan arah. Bahkan terkadang, petir sekalipun hanya ingin mendengar suaranya sendiri.   Biarkan kabar berputar seperti daun kering yang lupa pohonnya.   Tugasmu bukan menjadi pengeras suara. Tugasmu menjadi pohon: Kuat tumbuh wajar jernih dalam berprilak...

Samudra insan berkelindan

Wajah-wajah berarak bagai rona memukau, mempesona.   Riuh meriuh diriku dibisik badai. Bergemuruh, menggerutu— Sepi bersimpuh.   Betapa cinta bisa menjadi rahmat getir. Menyakitkan Ketika pelukan diberi jarak teramat lekat mengikat,  berjauhan.   Pikirku tercerai-berai Menyimpang, tak beraturan bagai tasbih putus. Biji-bijinya buta berserakan, doa-doa karam Hidup bergelimpangan— berzaman kedalaman.   Kau tahu... Betapa aku rindu pada setiap kapal yang melintas lewat. Namun kusadari, lautan penuh akan membuat bahtera tak menemukan arah; jalur terhalang—.   Mungkin aku harus seperti nelayan memilih pantai sepi untuk memperbaiki jaringnya.   Sekalipun hasrat tumbuh seperti ilalang pada mihrab rindu berwudu dengan air wajah sedih.   Untuk apa beramai-ramai tapi tak punya tempat? Tak menemukan angin membawa bahtera kembali ke jalur tepat—.   Maka biarlah aku mengembara samudra yang kumukimi sendiri sebagai bentuk kemerdekaan. Meski harus mengakrab...

Utuh

Ranting tua sering terpelanting; kulit rapuhnya pun sering dirobek oleh cuaca paling akrab.   Luka laku luruh. Tak ada perih keliru. Nyeri hati ialah hujan teduh: jatuh, menyentuh, menumbuh; menandai benih masih utuh, belum rapuh.   Bila dunia menyejajarkan takdirmu dengan takdir lain yang tampak lebih gaduh dan berselisih— ingatlah: Di atas Arasy, tiada ukur keliru tiada hitung tercela.   Yang tampak ganjil di mata insan, tetap genap dalam hitung Ilahi. Sekalipun diguncang riuh penilaian, kembali tegak di hadirat Yang Maha Mengetahui.   Teguhkan akar, jangan tercerabut kabar. Sandarkan resah pada Yang Maha Kuasa. Biarlah riuh berputar di luar pagar— engkau berakar, sadar, sabar.   Hidup bukan kebun selisih resah, bukan cermin asing memecah. Hidup ialah amanah yang basah oleh berkah: dititipkan, ditumbuhkan, hingga jiwa rekah, tabah.   Di hadirat-Nya yang Maha Mengerti, tiada diri tercatat sia-sia. Engkau cukup menjadi diri— tumbuh, teduh, utuh kembali. ...

Tak ada lagi penghanyutan

Lengkung senja melarungkan warna. Hijau menguning. Cakrawala mengatupkan cahaya pada kelopaknya. Kabut turun dengan tangan-tangan dingin. Mabuk, sulur kesadaran terdera.   Aku pernah menjadi daun yang diyakinkan bahwa gugur adalah tata krama tertinggi. Uratku kau jadikan kitab arah; sungai kau ubah menjadi penuntun.   Batang mengangguk saat aku terlepas, tanah membentangkan telapak takzimnya— luruh rontok adalah kebijaksanaan.   Aku rebah di punggung arus, membiarkan sungai membawa garis nasib diri, mengikuti sabdamu.   Langitmu begitu cerah— pilu terlihat biru. Pertanyaan-pertanyaanku silau, pandanganku ragu— dan aku selalu mampu mempercayaimu.   Di ujung mata, istana tercipta. Kau lupa pada daun dan memeluk matahari. Aku menadah asin dari percakapan terputus; Perpisahan berlabuh tanpa kata-kata.   Suaramu adalah dalil-dalil kerinduan bernafaskan pengukuhan. Mendudukkan amarah di kursi pengadilan, menyuruhnya merapikan bara, menghaluskan panas— hingga api ...

Bulan sepi

Langit menyentuh wajah bundar dengan jemari biru gemetar, bintang-bintang merapat meniup sayur-sayup rindu. Pijar pun memucat. Saat laut mengusap pergelangan tangan, menarik pasang dari tulang sunyi; Malam melingkari pinggang bundar, lekat. Ingin menetap. Bulan Terlalu lama menjadi wajah singgah Digantung bersama harapan. Terlalu lama bermalam dengan kerinduan.   Makan izinkan melepas diri dari pakuan langit Biar pendar ditarik relung terdalam.   Beri waktu duduk memeluk kelamnya. Menyisir gelap, memadamkan bara; memenjara.   Terang merindukan teduh Tinggi mendambakan tanah.   Bulan sendiri, Berpendar Terlantar Sepi   _______ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 17 Februari 2026

Sepucuk lembayung

Pada lembayung senja temaram keemasan, seuntai kuntum memutikkan embun kerinduan.   Mulanya, musim pelataran bersenandung; Semerbak bagai madah percintaan, Jantung berdebaran.   Lalu waktu menciptakan garis peralihan; rona beringsut dari wajah harapan. Helai demi helai jatuh ke pangkuan malam, menjadi hening, bening dan beralasan.   Sekuntum teguh rapuh menawan; sendu dalam sikap keanggunan, kesunyian mampu tumbuh di sela tangkai rawan   Mari mengolah pucuk demi pucuk menjadi bakal kehidupan. biar lembayung matang dalam semangkuk berkuah Semua akan berubah—entah rasa, atau masa. _______ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 17 Februari 2026

Aku memaafkan

Aku memaafkan— sebagaimana laut menelan bangkai kapal, tanpa menanyakan siapa yang karam. Dalam diriku, ombak-ombak berlutut, Mengenang desir yang pernah melukai, hingga asin berubah.   Aku memaafkan agar ruang dalam diri tidak menjadi museum dendam: tempat patung-patung mengabu. Kubakar arsip luka; abunya kutaburkan ke angin— Pulang sebagai hujan, bukan kemarahan.   Aku melupakan— seperti senja menghapus jejak matahari, tanpa menggugat mengapa siang pergi. Ingatan kugembalakan ke padang lapang, kuminumkan air sabar, hingga jinak dan tak lagi menggigit dari dalam.   Sungai mengaliri bawah tanah. memilih jalur gelap agar tak seorangpun tenggelam. Aku diam.   Aku sabar— langit tanpa tepi, Keyakinanku pada Allah membesar. luka-luka larut, perih hilang tanpa kabar.   Aku sabar, Seperti pohon Tetap berbuah di tengah musim berubah.   Aku memaafkan. Aku melupakan. Aku diam. Aku sabar.  _______ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso, 16 Februari 2026

Dua cuaca adalah kita

Rindu melintas sebelum lidah berkata; waktu tersenyum malas. Takdir menyelinap, pura-pura tak tahu.   Ketahuilah! Jendela Kamarku tertunduk setiap kali engkau lewat dalam pikiranku; angin mengetuk tirai. Rasa padamu terjahit dalam jantungku, tarik demi tarik, sunyi dan rahasia. Kita dua cuaca— aku hujan yang belum reda; kau matahari yang belum stabil cahayanya.   Langit sama, musim berbeda; dan malam tersenyum nyinyir melihat kita menari bersama angan-angan. Ruang tunggu menolak memanggil kita. Bahkan Kopi cemburu pada jari-jari yang menahan diri; Tiap tutur berjalan hati-hati, takut tumpah jadi pengakuan.   Cinta kita bangunan setengah jadi berusaha berdamai dengan keberingsutan sendiri sebelum menempati ruang bersama.   Sampai hari itu, rindu semakin dalam malam menyimpan arsip diam; dunia salah paham. _______ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael  Bondowoso , 13 Februari 2026

KABUT DIKSI PEREMPUAN SUNYI(Melembah di Arkeus Lunaris) MY Kembara

Di tengah kabut Haruman merunduk perlahan  mendinginkan jalanan yang mestinya diberangus siang Urung ku nikmati sarapan selalu terlambat karena lapar senantiasa lamban datang; kau kabarkan; gemercik larik mengalir ke hilir dan tertampung menjadi telaga sajak itu kini menjelma awan Langit mata ku tahan hujan "Ini keajaiban!" Gumam bayangnya berjalan perlahan di lorong kata yang labirin; menyampirkan hening pada benak bak kaca retak Dari netranya awan bergulung mendung Namun bukan hujan yang turun, melainkan prosa dan puisi yang ragu menyebut namanya sendiri Perempuan itu diam bukan sebab tak punya badai, tapi karena dunia terlalu sering memotong argumennya sebelum titik, bahkan kalimatnya tak pernah terucap hingga koma Mereka tak sudi menyediakan telinga Hingga akhirnya, jangan salahkan jika dia merupa gemuruh gurun mengaum, meraung Namun di dadanya, diksi berdenyut lirih: doa tak terucap kata, luka diakumulasi sedanau metafora Ia merawat makna seperti menjaga obor mungil di t...

Kita tidak kalah

Hubungan ini pernah kupeluk seperti rumah yang ingin kujaga dari segala cuaca. Namun, di dalamnya, kepercayaan berjalan pincang. Duduk di ruangan sebagai tamu yang sering datang, tetapi jarang benar-benar dipersilakan tinggal.   Kesalahan datang seperti musim hafal alamat. Mengetuk dengan cara yang sama, masuk melalui pintu yang sama, meninggalkan jejak yang sama.   Permintaan maaf pun selalu hadir di ambang hari, menunduk sopan, lalu pergi tanpa sempat meletakkan perubahan.   Aku mencintaimu dengan sungguh. Cintaku seperti akar yang menahan tanah dari longsor. Menguatkan yang rapuh, menyambung yang retak, dan berharap suatu hari pohon ini tumbuh seimbang.   Namun, akar pun dapat letih ketika tanah terus bergeser dan langit enggan teduh.   Pengertian di antara kita kerap berjalan sendiri-sendiri. Aku berbicara dengan bahasa hati, sementara suaramu sibuk membela kebenarannya sendiri.   Hidupku diletakkan sejajar dengan hidupmu—arah harus selalu satu garis, s...

Laron dan Nyala

Pada suatu malam renta, tatkala sunyi berlipat seperti kain kafan. Aku menjadi nyala.   Lalu gelap mengirimkan anak-anaknya: laron-laron bermata haus, mengira cahaya adalah pengkhianatan. Mereka berputar, berputar— seakan lingkar itu harapan, seakan jatuh adalah takdir; patut dirayakan. Mereka menabrakku seraya berseru: “Terang terlalu sombong.” “Nyala harus tahu diri.” Sayap-sayap tipis menciumi kaca, Tersungkur sambil memuja kejatuhannya. Sayap-sayap terlepas, mereka sebut ikhtiar. Wahai malam, sejak kapan kebenaran diwajibkan meredup agar kebohongan tidak tersinggung? Aku tidak menyalahkan laron— sebab mereka dilahirkan dari gelap yang  merindukan terang. Namun mereka lupa: nyala bukan biang kebinasaan; Aku hanya setia pada hakikatku.   Jika aku meredup demi menenangkan sayap mereka, maka malam akan menang tanpa perlawanan. Jika aku padam demi pujian mereka, maka gelap akan mengaku benar.   Maka izinkan aku tetap menyala, meski diserbu, meski dituding. Sebab teran...

Sesat

Pernah Aku mendatangi suatu tempat. Disana, Kewarasan diasuh adat timpang, akal bersimpuh, tunduk pada kehormatan. Kejernihan nurani dilipat seperti jubah usang, sementara kesesatan duduk bertakhta. Bahkan menata hukuman.   Prilakunya condong mengajari neraca memihak; lalu keberpihakan disebut "adil". Keburukan berwajah guru sepuh— fasih merangkai dalih, sabar membujuk nurani.   Akal diralat mufakat berulang, Lingkungan memeluk sambil mengikis kesadaran, Sudah tau bengkok masih dijadikan pakem kebenaran.   Begitulah habitat Ular; lazim dengan kesepakatan keliru, bahkan kenyataan memutar arah. Manusia—betapapun mengagungkan kebijaksanaan— akan diajar sesat oleh sesat yang disayanginya sendiri.    _______ `Karya: Sarah Bneiismael` Bondowoso, 5 Februari 2026

Mari

Mari duduk sejenak di antara jejak dan tujuan.   Dengarkan— bisikan batin yang kerap tersisih oleh riuh kehidupan.   Setiap insan pernah memiliki kebenaran, seperti lentera kecil di ruang kesadaran. Menyala menjaga hangat langkah, agar niat tetap terang.   Lentera tak pernah berjanji menyaingi sinar semu yang disulut bersama-sama.   Begitupun lingkungan, mengajarkan banyak perkara termasuk cara tersesat dengan tertib. Kekeliruan ditiup menjadi kelaziman; kearifan dipinggirkan demi kelancaran arus.   Di titik itulah kebenaran diuji— oleh kebiasaan yang diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.   Jika suatu hari langkah terasa ganjil, tak perlu lekas mencela diri. Boleh jadi, arah tetap jujur, sementara tanah pijakan tak lagi bersahabat dengan kesadaran   Maka ajukanlah pertanyaan!: "Apakah perjalanan ini menuju makna, atau sekadar larut dalam suara terbanyak?"   Sebab kebenaran menuntut keberanian— untuk tetap jernih di tengah kesesatan yang disepakat...

Izinkan aku mencintaimu

Biarkan jiwamu menari bersama tepian malam, biarkan bulan menunduk—menulis rindu pada permadani— biarkan angin membawaku menuturkan cinta kepadamu   Aku menyusuri lorong-lorong nurani, menyisir kehadiranmu di sungai yang bergerak gemulai; cahaya dan gelap menari dalam pelukan malam, mengajari rindu sebagai doa yang berbisik pada waktu.   Kau bukan sekadar manusia— kau gema Ilahi yang menari dalam relung jiwaku; detik tanpamu menjadi ladang menanti hujan, tatapmu samudra; menenggelamkan segala pilu.   Izinkan aku Mencintaimu.   Biarkan diri ini hanyut, menemukanmu di antara bisu merdu dan cahaya. Di sana cinta merajut—Aku, Engkau, dan Yang Maha Mencintai— bersatu dalam getar, rindu;  Seirama ____ Ditulis oleh: Sarah Bneiismael Bondowoso, 5 Februari 2020

Untuk apa bersedih?

Gambar

ANTINOMI KASTA DAN CINTA

Kurajut Pakem dari gading dan pualam yang purba, Demi lelaki Adiwangsa agar martabatku tak rebah. Namun, saat sang Adidaya kini telah kupeluk, Aku hanyalah Noktah sepi; luruh dan remuk. Aku memenangkan prestise, tapi kehilangan hangatnya rasa; Mendekap puncak tinggi, namun jiwaku berakhir tersiksa.   Sial benar lakon ini! Aku bertahta di samping sang Bintang, Namun kehadiranku baginya hanyalah bayang terbuang. Ia terlalu megah untuk menoleh, terlalu angkuh untuk peduli, Meninggalkan aku yang memeluk sepi di menara gading ini. Aku terjebak dalam Residu di sela egonya yang presisi; Memiliki raganya, namun tak pernah memenangkan atensi.   Lalu, bisikan kelam mulai merangkak, menawarkan muslihat: "Haruskah aku turun ke Marhaen mencari abdi yang taat?" Mencari ia yang jelata agar aku dipuja bak Mahadewi, Menukar kasih dengan sujud, membarter sayang dengan upeti. Haruskah kuturunkan kasta demi ruku’ yang paling dalam, Hanya agar ego yang haus ini tak lagi mati karam?   Inikah a...

PERJAMUAN ISTANA BERDARAH

Di aula agung yang pilar-pilarnya tegak dari ingkar janji, para Arsitek sibuk mendempul borok dinding ruangan dengan benang emas dari urat syaraf masa depan.   Mereka menyebutnya "Restorasi Kejayaan", saat sumsum bangunan lumat dikunyah rayap yang mereka ternakkan di ketiak kekuasaan.   Di meja tengah, keangkuhan telah ditata. Menu utamanya: "Harapan Rebus" di atas perak, disajikan bagi lidah yang telah tanggal urat tulusnya. Di luar, perut rakyat mengerang— simfoni lapar di tengah rimba.   Para elit bersulang dengan segelas "Air Mata Rakyat", disuling lewat pipa dusta hingga terasa manis sepekat nektar. Mereka bertengkar soal warna taplak meja, saat pilar-pilar mulai gemertak— patah oleh beban ego yang obesitas.   Lihat sang Badut di pojok itu! Ia tak melucu, ia mengetik angka palsu. Statistik bahagia dari mesin tik yang dikebiri; tanpa huruf "R"—karena Rakyat dan Realitas adalah duri yang sanggup merobek langit mulut penyamun.   Tugas tambahann...

Dua sayap patah

Tuhan, Pernah tubuh ini adalah singgasana bagi angin, tempat luas cakrawala diringkas dalam kepak perkasa. Saat itu, dua sayap-Mu adalah pilar yang tak tergoyahkan: satu menguatkan rusuk kanan sebagai tiang doa, satu menjaga lambung kiri sebagai debar nyawa. Dulu, tinggi adalah kawan, dan jatuh hanyalah sebuah ketidakmungkinan.   Kini, kedua sayap itu telah tanggal. Yang tersisa hanyalah rangka-rangka sungsang, patah tepat di pangkal daya, terhempas berulang tanpa satu pun lengan penopang. Tanah mendadak menjadi gravitasi purba, terasa lebih pekat dan jauh lebih berat dari segala duka.   Berdiri adalah upacara memakan sisa tenaga. Langkah-langkah kusimpan rapat agar tidak runtuh sepenuhnya, sebab setiap pijakan terasa seperti mengkhianati kerapuhan tulang. Angin melintas tanpa berhenti untuk menyapa, dan langit—kekasih lama yang dulu kupeluk—menjauh tanpa menoleh.   Wajah rindu telah merengut, ingin kembali kepada kebutuhan paling mula: hangat yang pernah tinggal, hanya i...